Kamis, 08 Januari 2015

Love Story : Ketika Cinta Kupegang Erat



Pernahkah terfikir cerita dongeng tanpa seorang putri? Hanya ada pangeran disana. Hey, mana ada pangeran tanpa seorang putri!. Cerita dongeng darimana pula itu?. Kau tak percaya? Cerita itu benar adanya! Baiklah jika kau memaksa aku akan menceritakannya.
Pada suatu hari... tidak, ini bukan dongeng kebanyakan yang menggunakan kalimat pembuka seperti itu, kita sudah di era modern. Ehm,... sebaiknya aku mulai bercerita sebelum kisah ini luntur dalam ingatanku.
Bening, sebuah bulir embun yang tersesat. Berada diujung daun dan sebentar lagi terjatuh karena daun itu tak kuat lagi menahan beban sang embun.  Perlahan... perlahan.. bulir itu masih bimbang antara menjatuhkan diri ke tanah atau bertahan hingga matahari benar-benar terbit. Butir embun itu akhirnya memutusan untuk terjatuh. Ketika butir embun itu bersiap, tiba-tiba goncangan kencang datang, sebuah jaket kulit menerpa daun tempat bulir embun itu berpijak. Belum sampai ia jatuhkan diri, sudah berpindah bulir air itu pada jaket kulit yang terus bergerak, perlahan ia mulai mengalir menyisakan jalan air. Basah. Semakin lama tubuhnya semakin tipis dan kemudian menghilang. Sungguh menyakitkan jika kita menghilang secara perlahan.
Apakah kau berfikir ini kisah sebutir embun? Tidak. Sebutir embun ini bukanlah sang tokoh utama. Dia hanya sebagian kecil pelengkap dalam sebuah cerita. Hey, sadarkah kau tadi aku berkata tentang jaket kulit? Oke, oke.. sekarang kita mulai fokus. Ehm, sebelum kalian salah persepsi aku akan meluruskan. Tokoh utama ini bukanlah sebutir embun ataupun jaket kulit. Tokoh utama kisah ini adalah seorang pemuda yang memakai jaket kulit, dimana dia tengah berlari dan tidak sengaja menyibak daun tempat setitik embun itu tinggal. Oke, sekarang kalian mulai paham? Jika iya, mari kita lanjutkan kisah ini, sebelum kepingan-kepingan cerita mulai hilang.
Pemuda itu berlari. Berlari diantara ruas-ruas jalan yang mulai tak terawat, yang mulai dipenuhi dengan semak belukar. Ah... hari ini dia baru saja menjelajah separuh hutan ini. Apa pula yang dikerjakan pemuda itu, menjelajah separuh hutan? Tidak. Dia tidak hanya berkeliling menjelajah. Disana dia mencari berbagai macam tumbuhan. Menelitinya. Deas nama pemuda itu. Seorang pemuda yang bercita-cita menjadi seorang ilmuwan.
Kalian bingung? Mengapa peran utama pemuda itu? Bukankah kisah ini tentang pangeran tanpa putri? Bersabarlah. Biarkan kepingan cerita ini terbentuk dengan sendirinya tak perlulah terburu-buru.
Deas. Pakaiannya kucel sekali sore ini. Lihatlah dia. Daun, ranting tersangkut di pakaiannya. Keranjang dengan tanaman yang entah apa namanya penuh membeludak. Satu dua terjatuh. Dan kemudian dipungutnya kembali. Dia berkeringat, tapi tak tampak lelah. Wajahnya terlihat bersemangat. Sepanjang jalan dia menyapa orang desa. Mereka mengenalnya, seorang pemuda yang tinggal di istana. Keluar istana setiap hari minggu, pergi kehutan dan kembali dengan sekeranjang penuh tumbuhan. Pemuda yang ramah pada siapapun. Si ilmuwan muda. Sebutan untuk pemuda itu bagi mereka. Ya, hanya sebatas itu yang mereka tahu.
Tahukah kau siapa sebenarnya pemuda itu? Tidak. Tidak ada yang tahu dan mengenal pemuda itu selain orang-orang istana.
Pagi ini, setelah membawa keranjang tumbuhan itu Deas kembali kehutan. Ia membersihkan dirinya dan berdandan rapi. Tidak, kali ini dia tidak pergi ke tengah hutan. Dia menyusuri pinggir hutan dan menuju sebuah sungai. Setelah berada di dekat sungai ia mulai memanjat sebuah pohon. Mengintai.  ‘ah... gadis itu datang!’ batinnya berkata. Gadis itu membawa ember. Mengambil air dan kemudian pergi, begitu terus  berulang kali. Hingga ia istirahat di sebuah batu pinggir sungai. Lelah.
Setelah beberapa menit mendengar gadis itu bersenandung, Deas turun dari pohon tempat persembunyiannya dan kemudian menghampiri gadis itu. Ia gugup, ah teramat gugup, berulang kali sudah ia merapikan pakainnya. Bagaimana tidak ia akan menyapa gadis pujaannya!
“hey, lagu yang merdu Cinderella...” sapanya pada gadis itu.
“oh, hey kau mengagetkan ku Deas. Sejak kapan kamu disini? Maaf aku tak menyadarinya..”
“hahaha... aku baru saja tiba, mendengar senandungmu yang merdu itu maka aku kemari”
“terimakasih Deas, aku merasa tersanjung. Hey, dapat apa hari ini dihutan? Tumbuhan aneh lagi? Ah ya.. sudah menciptakan penemuan baru ilmuwan muda?”
“hey, hey, kamu bertanya sekaligus Cinderella! Ehm, tadi aku menemukan beberapa tumbuhan baru, selebihnya ya tumbuhan biasa yang aku perlukan seperti, Eurycoma Longifolia (Pasak Bumi), Ginko Biloba, Murbei, Orthosipon Stamineus Benth, Ocimum Basilicum L, Reulla Napifera Zoll Mor, Datura Metel L, Melaleuca Leucadendra L.”
“Deas, kamu selalu hebat ya. Mengetahui berbagai macam tumbuhan, kamu belajar darimana sih? Bahkan di tempat kita tidak ada buku-buku yang cukup memadai” Cinderella tulus mengatakannya pada Deas, dia benar-benar kagum pada pemuda itu.
“ah, itu... uhm hanya kebetulan saja aku mengetahuinya kok” Deas bingung ingin mengatakannya, dia hanya bisa tersenyum. Belum saatnya Cinderella mengetahuinya.
Ketika mereka sedang asik berbincang-bincang, terdengar suara lantang seorang wanita.
“Cinderella!! Disini rupanya kamu!  Ah, bersama pemuda biasa, kamu lupa akan tugasmu ya! Banyak pekerjaan rumah yang belum kamu selesaikan, kamu malah asik bersama pemuda tak jelas seperti ini! Ah, tapi kalian memang cocok, gadis biasa bersama pemuda biasa! Hahaha...”
“maaf ibu, aku hanya beristirahat sejenak, aku benar-benar lelah membawa ember-ember ini.”
“huh! Alasan saja kamu! Bilang saja kalau kamu bertemu pemuda sok ilmuwan ini! Sudah pulang sana! Kerja!” maki ibu tiri Cinderella.
“ehm, maaf nyonya, Cinderella tadi memang benar-benar lelah dan kebetulan saya melihatnya. Jadi, kami berbincang sejenak hingga nyonya datang, dan lagi bukankah Cinderella memiliki kakak-kakak yang cantik. Mereka akan lebih tampak cantik lagi bila ikut membantu, itu akan membentuk tubuh mereka menjadi bagus.” Deas mencoba membantu Cinderella.
“pemuda sok pintar! Ayo Cinderella kita tinggalkan dia!” kata ibu tiri seraya melangkah dengan sangat arogan.
“baik bu,... maafkan ibuku ya Deas, aku mohon pamit” Cinderella berusaha tersenyum, sembari berlalu mengikuti langkah ibu tirinya.
“eh, tidak apa, kamu yang semangat ya Cinderella.” Deas berusaha tersenyum, sejujurnya dalam hatinya ia amat kecewa dengan perlakuan ibu tiri Cinderella, ia ingin sekali membawa Cinderella pergi dari rumah itu. Tapi ia sadar itu tak akan mungkin, keluarga akan menentangnya karena ia mendahului kakaknya.dan juga apa Cinderella mau dengannya?
Sudah sejak lama Deas memendam rasa pada Cinderella. Dan sudah sejak lama mereka berbicara bersama, teman sejak kecil, Deas dan Cinderella. Setiap Deas ingin mengatakan perasaannya Ia urung, karena ia sadar, Cinderella hanya menganggapnya sebagai sahabat, teman kecilnya. Tidak lebih. Deas pun menyadari bahwa lelaki yang amat dicintai Cinderella adalah kakaknya sendiri. Sang Pangeran, putra mahkota.  
****
Dua hari lagi akan diadakan pesta topeng di kerajaan. Dimana semua gadis di seluruh penjuru negeri datang untuk dapat melihat pangeran, berharap menjadi permaisuri. Semua penduduk bersiap, begitu pula di keluarga Cinderella. Ibu dan kakak tiri Cinderella hebohnya bukan main. Tapi sayang, itulah saat-saat bersedih Cinderella. Gadis yang malang, ia tidak diperbolehkan pergi ke pesta. Cinderella hanya bisa bersedih dan menangis, ia ingin sekali datang ke pesta topeng itu.
Disisi lain, Deas sibuk di perpustakaan membaca buku. Sesekali ia memperhatikan jendela. Pandangannya lurus ke arah utara. Tempat kediaman Cinderella.
“hey adikku Deas, tak bosankah kau disini? Membaca, membaca, dan membaca.” Tutur sang pangeran kepada Deas.
“hahaha entahlah kak, membaca selalu menyenangkan bagiku” deas tersenyum.
“hum... Deas kakak punya permohonan, untuk kali ini saja kau perkenalkan dirimu kepada rakyat agar mereka tahu bahwa masih ada satu pangeran lagi di kerajaan kita. Bukan sebagai ‘ilmuan muda’ yang tinggal di istana, lagipula mau sampai kapan kau berdiam diri terus.”
“iya kak, mungkin aku akan hadir. Lagipula lebih menyenangkan di sebut ilmuwan muda daripada seorang pangeran, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.”
“hahaha aku mengerti perasaanmu Deas, maukah kau berkuda bersama kakakmu ini? Ah, menyegarkan badan. Sudah lama kita tidak berkuda bersama”
“tentu kak, mari kita berkuda”
Deas dan kakaknya menghabiskan waktu dengan berkuda sore itu. Mereka tertawa bersama.
***
Hari pesta topeng pun tiba, pemuda pemudi satu dua mulai berdatangan memenuhi istana. Pangeran dan Deas sudah siap. Deas mengintip diantara celah gorden. Dia mencari seseorang. Tidak ada. Ah itu ibu dan kakak tiri Cinderella tapi tidak ada Cinderella disana. Deas mendesah, dugaannya benar Cinderella tidak datang. Deas pergi keruangannya mengambil sebuah kotak yang sudah ia persiapkan sejak dulu. Malam itu ia memacu kudanya, deas berhenti dibawah sebuah pohon rindang yang tidak jauh dari kediaman Cinderella, Deas melangkah mendekati sebuah jendella di rumah cinderella, sayup-sayup terdengar isak tangis dari dalam.
“hiks, hiks.... ingin sekali aku pergi ke pesta itu. Tapi mengapa mereka tidak ingin mengerti! Andai ayah ada disini. Ia pasti sudah menyiapkan gaun yang cantik dan mengantarkanku ke pesta itu. Aku ingin sekali bertemu pangeran, sungguh ku mencintanya, aku tak kuasa lagi memperhatikannya dari jauh, mencuri dengar kabarnya”
Cinderella merutuki sepi, mengeluarkan seluruh isi hatinya dan menangis tersedu tanpa ia menyadari kehadiran Deas di luar yang saat itu tengah terpaku mendengar ratapan Cinderella, ia begitu terkejut mengetahui bahwa gadis pujaan hatinya mencintai kakak yang di hormatinya.
***
Didekat perapian tempat Cinderella meringkuk muncul percikan perak lalu Pofff.... ibu peri muncul di antara angin yang berhembus, menjawab seluruh gundah gulana Cinderella.
“oh Cinderella ku yang malang, hapuslah air matamu, tak sepantasnya kau meratapi kesedihanmu. Ibu akan membantumu nak, sekarang dengarkan baik-baik perintah ibu, ambil sebuah labu yang paling besar di kebun, kumpulkan enam ekor tikus dan bawa anjing peliharaanmu di depan, kumpulkan jadi satu di kebun ya sayang. Kita akan membuat semua orang terkejut”
ibu peri yang  ramah, menampilkan senyum teramahnya pada Cinderella. Tanpa berfikir lagi, Cinderella mengumpulkan seluruh perintah yang dikatakan ibu peri. Sedangkan Deas? Dia terduduk dalam gelap, memperhatikan Cinderella yang kewalahan kesana kemari, ia  terdiam dan memegang erat-erat sebuah kotak.
Cinderella berhasil mengumpulkan semua yang diminta ibu peri, badannya penuh dengan keringat, nafasnya terengah-engah. Ibu peri tersenyum dan mengayunkan tongkatnya. Tiba-tiba percikan perak muncul dari tongkatnya, semakin lama semakin membesar dan menyelimuti cinderella beserta yang lainnya. Ketika cahaya perak itu mulai menghilang tampak kereta labu lengkap dengan kudanya dan seorang putri yang cantik jelita memakai gaun dan sepatu kaca yang indah. Deas sangat terpesona melihat keajaiban itu, apalagi ia melihat sosok yang amat dicintainya tersenyum gembira. Cinderella segera menaiki kereta labu nya dan pergi menuju istana, tidak lama kemudian deas meletakkan kotak yang sedari tadi di pegangnya erat-erat di dekat jendela. Deas kembali ke istana.
Dari balik tirai Deas memperhatikan kakaknya berdansa dengan seorang putri yang cantik jelita, Cinderella. Betapa pedih hati Deas melihatnya. Jam berdenting, Deas amat terkejut begitu pula Cinderella. Cinderella langsung berlari keluar istana, menuju kereta dan pergi. Kembali kerumahnya sebelum sihir ini benar-benar menghilang. Deas yang berada di Istana hanya bisa berdoa agar Cinderella selamat.
Paginya, Cinderella bekerja seperti biasanya, tapi hatinya berbunga-bunga karena peristiwa semalam. Ketika ia membersihkan bagian luar rumah tepatnya didekat jendela, ia menemukan sebuah kotak, “untuk Cinderella” . penasaran dengan kotak itu cinderella langsung membawa kekamarnya. Dibukanya kotak itu. Sebuah gaun yang cantik lengkap dengan topengnya. Disitu juga terdapat minyak wangi buatan sendiri. Dia langsung mengetahui bahwa itu pasti pemberian Deas. Tapi bagaimana mungkin deas memiliki barang-barang ini?  Cinderella berfikir keras, tapi dia tidak menemukan jawabannya. Akhirnya cinderella tidak ambil pusing dengan kejadian ini. Ia menyimpan barang tersebut dan kembali meneruskan pekerjaannya.
***
Deas melihat kakaknya bersedih. Sepatu kaca indah ditangannya memantulkan wajahnya.
“aku sudah mendatangi setiap rumah di negeri ini, tapi tidak kutemukan gadis itu. Apa yang harus kulakukan Deas?”
“apa kakak begitu mencintainya? Apa yang akan kakak lakukan jika bertemu dengannya?”
“ya, aku begitu mencintainya semenjak aku melihatnya untuk pertama kalinya. Aku tidak pernah melihat gadis itu dimanapun. Hawanya begitu terpancarkan. Aku akan menikahinya”
“biarpun dia hanya seorang rakyat jelata? Gadis biasa? Yang sibuk bekerja? Kau siap membahagiakannya?”
“aku tidak peduli dia seorang rakyat jelata atau apapun itu! Aku mencintainya! Aku siap membahagiakannya!”
“baiklah kak, datanglah ke sebuah rumah didaerah utara. Disana Terdapat seekor anjing penjaga, seorang ibu dengan dua gadis yang angkuh dan seorang gadis lugu. Datangilah gadis itu dan cobakan sepatu kaca ini padanya. Gadis itulah yang sedang kakak cari. Bahagiakanlah dia. Jangan pernah sekalipun kakak melukainya. Segeralah pergi. Temui dia” deas berkata dengan ikhlas dan setulus-tulusnya, ia mengharapkan kebahagiaan Cinderella begitu pula kebahagiaan kakaknya.
Pangeran beserta pengawalnya langsung menuju TKP *(tempat kejadian perkara)! Eh, maksudnya ketempat Cinderella (writer lagi ngantuk pemirsa). Di kediaman Cinderella, dua kakak tirinya sedang asik bersolek, sedangkan ibu tirinya sedang memarahi Cinderella, entah karena apa ia memarahi Cinderella yang malang. Dari kejauhan tampak rombongan berkuda. Keluarga dirumah kecil itu panik bukan main. Sang ibu tiri menyuruh Cinderella naik ke kamarnya di loteng.  Ibu beserta kedua kakak tirinya menyambut sang pangeran dan pengawalnya.

“sungguh suatu kehormatan atas kehadiran yang mulia disini. Ada perihal apa gerangan sehingga yang mulia bersedia singgah di gubuk kami yang kecil ini?” sapa ibu tiri Cinderella dengan penuh hormat.
“perkenankan aku mencobakan sepatu kaca ini kepada putri-putrimu nyonya.” Pinta pangeran.
“oh dengan penuh hormat pangeran, tentu saja, semoga anda mendapatkan apa yang anda inginkan”
Kedua kakak tiri Cinderella mencoba sepatu kaca yang dibawa oleh sang pangeran. Yang satu kakinya terlalu besar sehingga tidak muat, dan yang satu kakinya terlalu kecil sehingga kebesaran.
“kemana putrimu yang seorang lagi nyonya?” kata pangeran heran, karena tidak menemukan gadis yang disebut adiknya Deas.
Betapa terkejutnya sang ibu tiri, ia tidak menyangka jika sang pangeran mengetahui  keberadaan Cinderella.
“eh? Apa maksud tuanku, Cinderella tidak mungkin cocok dengan sepatu kaca ini yang mulia, sedangkan dia sendiri tidak hadir pada pesta itu. Sungguh tidak mungkin dia orang yang tuanku cari” kata ibu tiri heran.
“aku tidak peduli dia datang pada pesta itu atau tidak, seluruh gadis dinegeri ini berhak mencoba sepatu kaca ini.” Titah pangeran.
“uhh baiklah... Cinderella! Kemari turunlah” teriak ibu tiri memanggil Cinderella.
Betapa terkejutnya Cinderella, ia tidak menyangka bahwa sang ibu tiri akan memanggilnya. Harapannya kini muncul kembali, ia bisa bertemu kembali dengan sang pangeran! . tanpa menunda waktu Cinderella segera turun menuju tempat ibunya, ia sungguh berbunga-bunga.
“ada apa gerangan ibu memanggil saya?” tanya cinderella, melihat sang pangeran ia langsung memberi salam hormat.
“ sungguh kami tersanjung atas kedatangan pangeran.” Cinderella tersenyum.
“nona maukah kau mencoba sepatu kaca ini?” tanya sang pangeran, ia terpesona pada gadis didepannya, tampak cantik dan anggun biarpun menggunakan pakaian pelayan, ah ia kenal gadis itu, gadis yang berdansa dengannya.
“sungguh kehormatan yang mulia mempersilakan hamba mengenakan sepatu kaca yang indah ini.”
Cinderella pun mencobanya dan tiba-tiba cahaya perak menyelimuti tubuhnya. Wussshhh... kini Cinderella memakai sebuah gaun yang sangat indah.
“kaulah gadis yang selama ini ku cari Cinderella, maukah kau menikah denganku?” kata pangeran penuh kekaguman dan keterkejutan.
Dengan mata berkaca-kaca dan kebahagiaan yang meletup-letup Cinderella mengangguk terharu. Mereka pun ke istana, dan menikah. Cinderella yang baik, ia mengajak ibu dan saudara tirinya tinggal di istana bersama dengannya biarpun ia telah di aniaya. Ibu dan kedua kakak tirinya amat terharu, mereka berjanji akan menjadi orang yang baik.
Dan satu yang membuat  Cinderella terkejut, ia melihat Deas pada pesta pernikahannya, ia tidak menyangka ternyata Deas adalah adik sang Pangeran pujaannya, kini pertanyaannya telah terjawab kenapa Deas bisa memiliki gaun yang indah itu. Tidak, tidak hanya Cinderella yang terkejut tapi seluruh rakyat negeri itu, orang yang selama ini mereka temui yang mereka kira orang baik yang aneh tapi ternyata adalah seorang pangeran yang gagah memesona.
Deas, setelah perayaan pernikahan kakaknya ia memutuskan tinggal di kastil dekat pantai di bagian utara yang masih menjadi wilayah kerajaan mereka. Dia memutuskan sepenuhnya untuk mendalami hobinya membuat penemuan. Dan cita-citanya terwujud dia menjadi seorang ilmuwan terkenal hingga akhir hayatnya. Menggenggam prestasi dan cinta nya erat-erat. Dia masih mencintai gadis yang sama. Cinta yang tak pernah tersampaikan. End.
*maap kalo gambar admin jelek :3

Hiks,hiks akhirnya selesai juga cerita pangeran tanpa seorang putri *horeee plok,plok,plok.. sedikit memainkan imajinasi boleh yak.. writer bikin ini cerita sambil nangis bombay looh.. eh, bukan, bukan karena ceritanya tapi karena mikir soal UAS !! haha ga nyambung T.T but it’s ok. Semoga para reader terhibur, lebih-lebih kalo terharu hahaha makin gaje aja nih... thanks for coming. ^0^  

Jumat, 02 Januari 2015

hey! Aku dan Mereka


cerita yang dulu kubuat ketika SMA, itupun karena tugas Bahasa Indonesia. hahaha, 
Tegang, gelap... sayup-sayup terdengar suara yang ringan berceloteh, bercanda dan tertawa seperti tanpa beban. Kulihat gadis kecil itu berlari-lari di sekitar sepasang orang dewasa yang ikut tertawa melihat polah gadis kecil itu. Aku kenal gadis itu, rambut panjang terikat, senyum berhiaskan lesung pipit tampak serasi dengan wajah orientalnya. Dia adalah diriku, gadis kecil yang tak pernah tahu, gadis kecil yang tak pernah bisa mengingat wajah sepasang orang dewasa itu. Sebarapapun kerasnya mencoba melihat wajah-wajah itu maka semakin buram bayang-bayang mereka. Keringat dingin mengalir, badanku bergetar, seketika itu pula aku membuka mata, nafasku berderu kencang seperti telah berlari ratusan kilometer. Mimpi itu datang lagi,datang di setiap malam-malam berhujan, datang disetiap gelap dan sepi yang mencekam , aku hanya bisa termangu diatas ranjangku, mendengar irama jutaan bulir air yang membasuh kota ini.
Jam masih menunjukkan pukul 00.45 WIB, aku beranjak dari ranjangku dan bergegas kedapur untuk menuntaskan dahaga akibat mimpi barusan. Ketika akan kembali aku tersadar bahwa lampu ruang shalat menyala dan disana tampak seorang wanita hampir paruh baya sedang duduk diantara dua sujud begitu tenang diantara suara hujan. Aku terdiam membisu ketika ia menyadari kehadiranku, “ rinai? Ada apa? Kamu tidak bisa tidur sayang?” suara itu menggema di udara. Ya, dialah ibu raisa, pemilik panti Asuhan Cahaya Kecil yang aku tempati. “ada apa rinai? Kemari, ceritakan kepada ibu apa yang membuatmu terbangun” bu raisa mengulang kalimatnya dimodifikasi dengan pertanyaan yang berbeda. Ragu-ragu aku mendekat, ketika aku ingin menceritakan mimpi itu lidahku kelu, dan seperti ada batu besar yang tersangkut pada kerongkonganku. “tidak apa-apa bu, rinai hanya terbangun karena haus”. Kata-kata itu melesat cepat disela kerongkonganku ada rasa resah dan gelisah dalam hatiku. “sudah minum?” tanya bu raisa ketika mendengar jawabanku , aku hanya mengangguk pelan. Bu raisa tertawa, tawa yang renyah “ya sudah, sana kembali kekamarmu , besok kau harus bangun pagi dan bersiap sekolah bukan?” aku langsung menjawab dengan cepat “ baik bu. . .” dan kemudian kembali kekamarku, terlelap.
Semburat sinar matahari bersinar terang memancarkan kegagahannya. Aku bersama saudara satu atapku anak panti yaitu aldi, dika, dan dinara berlari-lari menuju bukit dibelakang panti, kami bersenda gurau dengan santai. “dika, katanya kamu akan diadopsi ya?” aldi bertanya memecah keheningan. Dinara yang sedari tadi asik di dalam dunianya membaca buku seketika menoleh ke sumber suara “yang benar kak?” aldi hanya mengangkat bahu, sedangkan dika yang dibicarakan hanya diam, tampak gurat kesedihan diwajahnya. Hembusan angin memainkan anak rambut, sejenak keheningan menjalar mengetuk-ngetuk  jiwa-jiwa kecil disini “hey, ayo kembali ke panti!” kataku sebelum keheningan ini benar-benar menyelimuti kami, dika yang sedari tadi diam menoleh dengan ragu dan dengan wajah yang terlihat cemas. “mmm... aku tidak ikut kak, kalian pulang duluan saja” dika akhirnya membuka mulutnya, kami yang mendengar penuturannya tampak heran, dinara yang sedari tadi penasaran  dan telah mengerutkan keningnya mulai bertanya “kenapa kak dika? Kenapa tidak ikut? Nanti bu raisa khawatir lho, apa kakak tega melihat bu raisa sedi dan kerepotan?” begitulah dinara gadis kecil yang cerdas membombardir dika dengan pertanyaan, dika yang mendengarnya tersenyum kecut “aku tidak ingin membuat bu raisa sedih nara, aku. . . aku hanya tidak ingin bertemu dengan orangtua baruku . . . aku hanya ingin terus dipanti!” dengan bergetar dika menjelaskan, matanya panas. “dika, kamu tidak boleh begitu,  semua anak panti berharap memiliki orangtua , seharusnya kamu bersyukur karena mendapat kesempatan itu.” Aku membujuknya, dika yang jengkel dan labil mulai membantah,”tapi tidak denganku kak! Aku ingin terus dipanti bersama yang lain! Merekalah keluargaku! Bukan orang asing yang datang dan pergi membawa satu persatu anak panti!” aldi dan dinara terdiam, udara terasa menyesakkan. Aku tahu perasaan dika yang dari lahir sudah dititipkan dipanti, baginya panti asuhan cahaya kecil adalah keluarga dan rumahnya. Aku menghela nafas “dika, kakak tahu perasaan sedihmu karena akan berpisah, tapi hal ini pasti akan terjadi , ini demi masa depanmu juga, jika kamu masih bersikeras aku dan yang lain tidak akan menghalangimu, tapi sebaiknya kau bicarakan hal ini kepada bu raisa!” tandasku pada dika yang masih tergugu. Dika menatapku dengan jengkel dan penuh amarah. Tanpa sepatah katapun dika berlari meninggalkan kami yang hanya bisa melongo melihat tingkahnya . setelah kejadian itu dika selalu terdiam, ia tidak pernah sedikitpun menatapku dan mempedulikanku. Aku tahu dia benar-benar marah padaku dan aku harus minta maaf padanya sebelum terlambat.
Malam datang kamipun terlelap. Tak terasa aku sudah berada ditempat itu lagi dan lagi-lagi aku melihat peristiwa itu. Gadis kecil dengan sepasang orang dewasa yang tampak bahagia. Inginku mendekat, menatap mereka, tapi seperti terbelenggu dalam kegelapan, tubuhku kaku,  aku berusaha mencoba mendekat kembali, sia-sia! Ini tak berguna, badanku bergetar dan tanpa sadar aku terbangun dengan mata basah, badanku berkeringat. Ribuan bulir air yang jatuh berirama memecah keheningan malam. Aku keluar kamar, kali ini lampu kamar shalat tidak menyala berarti tidak ada bu raisa  disana. Ketika melintasi kamar dika sayup-sayup terdengar isak tangis seseorang , aku penasaran, kucari sumber suara itu dan kudapati dika sedang menangis terisak diranjangnya. “dika?” ucapku sembari memegang kepalanya . dika tetap terisak, “kamu masih marah dengan kakak ya?” aku kembali berkata.  Tak ada jawaban. . . “dika, maafkan aku, aku tak bermaksud buruk, aku hanya ingin kau bahagia. .” dika terus saja menangis, aku menghela nafas, “dika? apakah kau tahu mengapa malam ini kakak terbangun?” aku kemudian menceritakan mimpiku dengan mendetail, semua perasaan yang aku rasakan. Badanku kembali bergetar, suaraku tercekat tapi aku dapat menceritakan mimpi mimpi itu, aku tahu dika mendengarkanku karena dia telah berhenti menangis dan malam itu aku memutuskan untuk menceritakan semua masalalu ku yang aku ketahui dari ibu panti, semua yang menyebabkan aku sampai dipanti. “aku.. tidak sejak bayi berada dipanti,aku datang kemari ketika berusia 6 tahun dan kau tahu siapa yang mengantarkanku? Suster dari sebuah rumah sakit. Kata bu raisa, aku seorang anak yang selamat dari insiden kapal karam karena terhantam badai, aku ditemukan telah membiru karena kedinginan. Aku langsung dibawa kerumah sakit oleh tim SAR yang menangani insiden itu, katanya aku lupa ingatan karena trauma berat,  yah ku akui aku memang tidak ingat apapun tentang semua masa keciku ketika bersama orang tua ku. Nama rinai kusuma itu diberikan ole almarhum pak alif, kau kenalkan suami bu raisa?” aku berusaha tertawa memecah suasana yang menyesakkan ini. Dika yang sangat menyukai pak alif mengangguk dengan cepat. Aku tersenyum. “kau tahu apa pesan pak alif dulu kepada kita?” tanyaku kepada dika. Ia ragu-ragu mengangguk. Aku kembali tertawa dan berkata “dimanapun kita berada, kita akan tetap menjadi saudara, tak akan ada yang hilang dari hati, tidak akan ada! Kita akan selalu dan selalu menjadi keluarga.” Suaraku bergetar diantara nafasku yang tersengal perlahan bulir-bulir air mulai mengalir dari sudut mataku. Hujan semakin deras menyapu kota , membuat orang-orang tambah terlelap.
"kak? Sudah jangan menangis , dika sekarang sadar kak, dika tak akan egois, lagipula dika tahu orang tua baru dika sangat baik, dika sebenarnya juga menyukai mereka, dika hanya takut jika tak bisa bertemu kalian lagi. Dika berjanji akan menjadi anak baik dan melakukan hal terbaik yang dika bisa. Jadi, jika suatu saat nanti kita bertemu, tak akan ada yang hilang dari hati, kita tetap saudara...” dika mengatakannya dengan senyum tanpa sedikitpun beban. Dua hari setelah kejadian itu kami melepas dika pergi bersama kedua orangtua barunya ia pergi dengan wajah berseri-seri.
Sedangkan aku? Aku tetap disini, dengan mimpi-mimpi yang terbelenggu. Dan perlahan aku mulai menikmati mimpi-mimpi itu menyimpannya dalam memoriku dan ketika aku bermimpi tentang kejadian-kejadian itu aku berharap semoga aku tak pernah terbangun agar aku bisa selalu melihat wajah-wajah itu dan tersenyum di bawah langit biru.end.