Pernahkah
terfikir cerita dongeng tanpa seorang putri? Hanya ada pangeran disana. Hey,
mana ada pangeran tanpa seorang putri!. Cerita dongeng darimana pula itu?. Kau
tak percaya? Cerita itu benar adanya! Baiklah jika kau memaksa aku akan
menceritakannya.
Pada
suatu hari... tidak, ini bukan dongeng kebanyakan yang menggunakan kalimat
pembuka seperti itu, kita sudah di era modern. Ehm,... sebaiknya aku mulai
bercerita sebelum kisah ini luntur dalam ingatanku.
Bening,
sebuah bulir embun yang tersesat. Berada diujung daun dan sebentar lagi
terjatuh karena daun itu tak kuat lagi menahan beban sang embun. Perlahan... perlahan.. bulir itu masih
bimbang antara menjatuhkan diri ke tanah atau bertahan hingga matahari
benar-benar terbit. Butir embun itu akhirnya memutusan untuk terjatuh. Ketika butir
embun itu bersiap, tiba-tiba goncangan kencang datang, sebuah jaket kulit
menerpa daun tempat bulir embun itu berpijak. Belum sampai ia jatuhkan diri,
sudah berpindah bulir air itu pada jaket kulit yang terus bergerak, perlahan ia
mulai mengalir menyisakan jalan air. Basah. Semakin lama tubuhnya semakin tipis
dan kemudian menghilang. Sungguh menyakitkan jika kita menghilang secara
perlahan.
Apakah
kau berfikir ini kisah sebutir embun? Tidak. Sebutir embun ini bukanlah sang
tokoh utama. Dia hanya sebagian kecil pelengkap dalam sebuah cerita. Hey,
sadarkah kau tadi aku berkata tentang jaket kulit? Oke, oke.. sekarang kita
mulai fokus. Ehm, sebelum kalian salah persepsi aku akan meluruskan. Tokoh
utama ini bukanlah sebutir embun ataupun jaket kulit. Tokoh utama kisah ini
adalah seorang pemuda yang memakai jaket kulit, dimana dia tengah berlari dan
tidak sengaja menyibak daun tempat setitik embun itu tinggal. Oke, sekarang
kalian mulai paham? Jika iya, mari kita lanjutkan kisah ini, sebelum
kepingan-kepingan cerita mulai hilang.
Pemuda
itu berlari. Berlari diantara ruas-ruas jalan yang mulai tak terawat, yang
mulai dipenuhi dengan semak belukar. Ah... hari ini dia baru saja menjelajah
separuh hutan ini. Apa pula yang dikerjakan pemuda itu, menjelajah separuh
hutan? Tidak. Dia tidak hanya berkeliling menjelajah. Disana dia mencari
berbagai macam tumbuhan. Menelitinya. Deas nama pemuda itu. Seorang pemuda yang
bercita-cita menjadi seorang ilmuwan.
Kalian
bingung? Mengapa peran utama pemuda itu? Bukankah kisah ini tentang pangeran
tanpa putri? Bersabarlah. Biarkan kepingan cerita ini terbentuk dengan
sendirinya tak perlulah terburu-buru.
Deas.
Pakaiannya kucel sekali sore ini. Lihatlah dia. Daun, ranting tersangkut di
pakaiannya. Keranjang dengan tanaman yang entah apa namanya penuh membeludak.
Satu dua terjatuh. Dan kemudian dipungutnya kembali. Dia berkeringat, tapi tak
tampak lelah. Wajahnya terlihat bersemangat. Sepanjang jalan dia menyapa orang
desa. Mereka mengenalnya, seorang pemuda yang tinggal di istana. Keluar istana
setiap hari minggu, pergi kehutan dan kembali dengan sekeranjang penuh
tumbuhan. Pemuda yang ramah pada siapapun. Si ilmuwan muda. Sebutan untuk
pemuda itu bagi mereka. Ya, hanya sebatas itu yang mereka tahu.
Tahukah
kau siapa sebenarnya pemuda itu? Tidak. Tidak ada yang tahu dan mengenal pemuda
itu selain orang-orang istana.
Pagi
ini, setelah membawa keranjang tumbuhan itu Deas kembali kehutan. Ia
membersihkan dirinya dan berdandan rapi. Tidak, kali ini dia tidak pergi ke
tengah hutan. Dia menyusuri pinggir hutan dan menuju sebuah sungai. Setelah
berada di dekat sungai ia mulai memanjat sebuah pohon. Mengintai. ‘ah... gadis itu datang!’ batinnya berkata.
Gadis itu membawa ember. Mengambil air dan kemudian pergi, begitu terus berulang kali. Hingga ia istirahat di sebuah
batu pinggir sungai. Lelah.
Setelah
beberapa menit mendengar gadis itu bersenandung, Deas turun dari pohon tempat
persembunyiannya dan kemudian menghampiri gadis itu. Ia gugup, ah teramat
gugup, berulang kali sudah ia merapikan pakainnya. Bagaimana tidak ia akan
menyapa gadis pujaannya!
“hey,
lagu yang merdu Cinderella...” sapanya pada gadis itu.
“oh,
hey kau mengagetkan ku Deas. Sejak kapan kamu disini? Maaf aku tak
menyadarinya..”
“hahaha...
aku baru saja tiba, mendengar senandungmu yang merdu itu maka aku kemari”
“terimakasih
Deas, aku merasa tersanjung. Hey, dapat apa hari ini dihutan? Tumbuhan aneh
lagi? Ah ya.. sudah menciptakan penemuan baru ilmuwan muda?”
“hey,
hey, kamu bertanya sekaligus Cinderella! Ehm, tadi aku menemukan beberapa
tumbuhan baru, selebihnya ya tumbuhan biasa yang aku perlukan seperti, Eurycoma Longifolia (Pasak Bumi), Ginko Biloba, Murbei, Orthosipon Stamineus
Benth, Ocimum Basilicum L, Reulla Napifera Zoll Mor, Datura Metel L, Melaleuca Leucadendra
L.”
“Deas,
kamu selalu hebat ya. Mengetahui berbagai macam tumbuhan, kamu belajar darimana
sih? Bahkan di tempat kita tidak ada buku-buku yang cukup memadai” Cinderella
tulus mengatakannya pada Deas, dia benar-benar kagum pada pemuda itu.
“ah,
itu... uhm hanya kebetulan saja aku mengetahuinya kok” Deas bingung ingin
mengatakannya, dia hanya bisa tersenyum. Belum saatnya Cinderella
mengetahuinya.
Ketika
mereka sedang asik berbincang-bincang, terdengar suara lantang seorang wanita.
“Cinderella!!
Disini rupanya kamu! Ah, bersama pemuda
biasa, kamu lupa akan tugasmu ya! Banyak pekerjaan rumah yang belum kamu
selesaikan, kamu malah asik bersama pemuda tak jelas seperti ini! Ah, tapi
kalian memang cocok, gadis biasa bersama pemuda biasa! Hahaha...”
“maaf
ibu, aku hanya beristirahat sejenak, aku benar-benar lelah membawa ember-ember
ini.”
“huh!
Alasan saja kamu! Bilang saja kalau kamu bertemu pemuda sok ilmuwan ini! Sudah
pulang sana! Kerja!” maki ibu tiri Cinderella.
“ehm,
maaf nyonya, Cinderella tadi memang benar-benar lelah dan kebetulan saya
melihatnya. Jadi, kami berbincang sejenak hingga nyonya datang, dan lagi
bukankah Cinderella memiliki kakak-kakak yang cantik. Mereka akan lebih tampak
cantik lagi bila ikut membantu, itu akan membentuk tubuh mereka menjadi bagus.”
Deas mencoba membantu Cinderella.
“pemuda
sok pintar! Ayo Cinderella kita tinggalkan dia!” kata ibu tiri seraya melangkah
dengan sangat arogan.
“baik
bu,... maafkan ibuku ya Deas, aku mohon pamit” Cinderella berusaha tersenyum,
sembari berlalu mengikuti langkah ibu tirinya.
“eh,
tidak apa, kamu yang semangat ya Cinderella.” Deas berusaha tersenyum,
sejujurnya dalam hatinya ia amat kecewa dengan perlakuan ibu tiri Cinderella,
ia ingin sekali membawa Cinderella pergi dari rumah itu. Tapi ia sadar itu tak
akan mungkin, keluarga akan menentangnya karena ia mendahului kakaknya.dan juga
apa Cinderella mau dengannya?
Sudah
sejak lama Deas memendam rasa pada Cinderella. Dan sudah sejak lama mereka
berbicara bersama, teman sejak kecil, Deas dan Cinderella. Setiap Deas ingin
mengatakan perasaannya Ia urung, karena ia sadar, Cinderella hanya
menganggapnya sebagai sahabat, teman kecilnya. Tidak lebih. Deas pun menyadari
bahwa lelaki yang amat dicintai Cinderella adalah kakaknya sendiri. Sang Pangeran,
putra mahkota.
****
Dua
hari lagi akan diadakan pesta topeng di kerajaan. Dimana semua gadis di seluruh
penjuru negeri datang untuk dapat melihat pangeran, berharap menjadi
permaisuri. Semua penduduk bersiap, begitu pula di keluarga Cinderella. Ibu dan
kakak tiri Cinderella hebohnya bukan main. Tapi sayang, itulah saat-saat
bersedih Cinderella. Gadis yang malang, ia tidak diperbolehkan pergi ke pesta.
Cinderella hanya bisa bersedih dan menangis, ia ingin sekali datang ke pesta
topeng itu.
Disisi
lain, Deas sibuk di perpustakaan membaca buku. Sesekali ia memperhatikan
jendela. Pandangannya lurus ke arah utara. Tempat kediaman Cinderella.
“hey
adikku Deas, tak bosankah kau disini? Membaca, membaca, dan membaca.” Tutur
sang pangeran kepada Deas.
“hahaha
entahlah kak, membaca selalu menyenangkan bagiku” deas tersenyum.
“hum...
Deas kakak punya permohonan, untuk kali ini saja kau perkenalkan dirimu kepada
rakyat agar mereka tahu bahwa masih ada satu pangeran lagi di kerajaan kita.
Bukan sebagai ‘ilmuan muda’ yang tinggal di istana, lagipula mau sampai kapan
kau berdiam diri terus.”
“iya
kak, mungkin aku akan hadir. Lagipula lebih menyenangkan di sebut ilmuwan muda
daripada seorang pangeran, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.”
“hahaha
aku mengerti perasaanmu Deas, maukah kau berkuda bersama kakakmu ini? Ah,
menyegarkan badan. Sudah lama kita tidak berkuda bersama”
“tentu
kak, mari kita berkuda”
Deas
dan kakaknya menghabiskan waktu dengan berkuda sore itu. Mereka tertawa
bersama.
***
Hari
pesta topeng pun tiba, pemuda pemudi satu dua mulai berdatangan memenuhi
istana. Pangeran dan Deas sudah siap. Deas mengintip diantara celah gorden. Dia
mencari seseorang. Tidak ada. Ah itu ibu dan kakak tiri Cinderella tapi tidak
ada Cinderella disana. Deas mendesah, dugaannya benar Cinderella tidak datang.
Deas pergi keruangannya mengambil sebuah kotak yang sudah ia persiapkan sejak
dulu. Malam itu ia memacu kudanya, deas berhenti dibawah sebuah pohon rindang
yang tidak jauh dari kediaman Cinderella, Deas melangkah mendekati sebuah
jendella di rumah cinderella, sayup-sayup terdengar isak tangis dari dalam.
“hiks,
hiks.... ingin sekali aku pergi ke pesta itu. Tapi mengapa mereka tidak ingin
mengerti! Andai ayah ada disini. Ia pasti sudah menyiapkan gaun yang cantik dan
mengantarkanku ke pesta itu. Aku ingin sekali bertemu pangeran, sungguh ku
mencintanya, aku tak kuasa lagi memperhatikannya dari jauh, mencuri dengar
kabarnya”
Cinderella
merutuki sepi, mengeluarkan seluruh isi hatinya dan menangis tersedu tanpa ia
menyadari kehadiran Deas di luar yang saat itu tengah terpaku mendengar ratapan
Cinderella, ia begitu terkejut mengetahui bahwa gadis pujaan hatinya mencintai
kakak yang di hormatinya.
***
Didekat
perapian tempat Cinderella meringkuk muncul percikan perak lalu Pofff.... ibu
peri muncul di antara angin yang berhembus, menjawab seluruh gundah gulana
Cinderella.
“oh
Cinderella ku yang malang, hapuslah air matamu, tak sepantasnya kau meratapi
kesedihanmu. Ibu akan membantumu nak, sekarang dengarkan baik-baik perintah
ibu, ambil sebuah labu yang paling besar di kebun, kumpulkan enam ekor tikus
dan bawa anjing peliharaanmu di depan, kumpulkan jadi satu di kebun ya sayang.
Kita akan membuat semua orang terkejut”
ibu
peri yang ramah, menampilkan senyum
teramahnya pada Cinderella. Tanpa berfikir lagi, Cinderella mengumpulkan
seluruh perintah yang dikatakan ibu peri. Sedangkan Deas? Dia terduduk dalam
gelap, memperhatikan Cinderella yang kewalahan kesana kemari, ia terdiam dan memegang erat-erat sebuah kotak.
Cinderella
berhasil mengumpulkan semua yang diminta ibu peri, badannya penuh dengan
keringat, nafasnya terengah-engah. Ibu peri tersenyum dan mengayunkan
tongkatnya. Tiba-tiba percikan perak muncul dari tongkatnya, semakin lama
semakin membesar dan menyelimuti cinderella beserta yang lainnya. Ketika cahaya
perak itu mulai menghilang tampak kereta labu lengkap dengan kudanya dan
seorang putri yang cantik jelita memakai gaun dan sepatu kaca yang indah. Deas
sangat terpesona melihat keajaiban itu, apalagi ia melihat sosok yang amat
dicintainya tersenyum gembira. Cinderella segera menaiki kereta labu nya dan
pergi menuju istana, tidak lama kemudian deas meletakkan kotak yang sedari tadi
di pegangnya erat-erat di dekat jendela. Deas kembali ke istana.
Dari
balik tirai Deas memperhatikan kakaknya berdansa dengan seorang putri yang
cantik jelita, Cinderella. Betapa pedih hati Deas melihatnya. Jam berdenting,
Deas amat terkejut begitu pula Cinderella. Cinderella langsung berlari keluar
istana, menuju kereta dan pergi. Kembali kerumahnya sebelum sihir ini
benar-benar menghilang. Deas yang berada di Istana hanya bisa berdoa agar
Cinderella selamat.
Paginya,
Cinderella bekerja seperti biasanya, tapi hatinya berbunga-bunga karena
peristiwa semalam. Ketika ia membersihkan bagian luar rumah tepatnya didekat
jendela, ia menemukan sebuah kotak, “untuk Cinderella” . penasaran dengan kotak
itu cinderella langsung membawa kekamarnya. Dibukanya kotak itu. Sebuah gaun
yang cantik lengkap dengan topengnya. Disitu juga terdapat minyak wangi buatan
sendiri. Dia langsung mengetahui bahwa itu pasti pemberian Deas. Tapi bagaimana
mungkin deas memiliki barang-barang ini?
Cinderella berfikir keras, tapi dia tidak menemukan jawabannya. Akhirnya
cinderella tidak ambil pusing dengan kejadian ini. Ia menyimpan barang tersebut
dan kembali meneruskan pekerjaannya.
***
Deas
melihat kakaknya bersedih. Sepatu kaca indah ditangannya memantulkan wajahnya.
“aku
sudah mendatangi setiap rumah di negeri ini, tapi tidak kutemukan gadis itu.
Apa yang harus kulakukan Deas?”
“apa
kakak begitu mencintainya? Apa yang akan kakak lakukan jika bertemu dengannya?”
“ya,
aku begitu mencintainya semenjak aku melihatnya untuk pertama kalinya. Aku tidak
pernah melihat gadis itu dimanapun. Hawanya begitu terpancarkan. Aku akan
menikahinya”
“biarpun
dia hanya seorang rakyat jelata? Gadis biasa? Yang sibuk bekerja? Kau siap
membahagiakannya?”
“aku
tidak peduli dia seorang rakyat jelata atau apapun itu! Aku mencintainya! Aku siap
membahagiakannya!”
“baiklah
kak, datanglah ke sebuah rumah didaerah utara. Disana Terdapat seekor anjing
penjaga, seorang ibu dengan dua gadis yang angkuh dan seorang gadis lugu. Datangilah
gadis itu dan cobakan sepatu kaca ini padanya. Gadis itulah yang sedang kakak
cari. Bahagiakanlah dia. Jangan pernah sekalipun kakak melukainya. Segeralah pergi.
Temui dia” deas berkata dengan ikhlas dan setulus-tulusnya, ia mengharapkan
kebahagiaan Cinderella begitu pula kebahagiaan kakaknya.
Pangeran
beserta pengawalnya langsung menuju TKP *(tempat kejadian perkara)! Eh,
maksudnya ketempat Cinderella (writer lagi ngantuk pemirsa). Di kediaman
Cinderella, dua kakak tirinya sedang asik bersolek, sedangkan ibu tirinya
sedang memarahi Cinderella, entah karena apa ia memarahi Cinderella yang
malang. Dari kejauhan tampak rombongan berkuda. Keluarga dirumah kecil itu
panik bukan main. Sang ibu tiri menyuruh Cinderella naik ke kamarnya di
loteng. Ibu beserta kedua kakak tirinya
menyambut sang pangeran dan pengawalnya.
“sungguh
suatu kehormatan atas kehadiran yang mulia disini. Ada perihal apa gerangan
sehingga yang mulia bersedia singgah di gubuk kami yang kecil ini?” sapa ibu tiri
Cinderella dengan penuh hormat.
“perkenankan
aku mencobakan sepatu kaca ini kepada putri-putrimu nyonya.” Pinta pangeran.
“oh
dengan penuh hormat pangeran, tentu saja, semoga anda mendapatkan apa yang anda
inginkan”
Kedua
kakak tiri Cinderella mencoba sepatu kaca yang dibawa oleh sang pangeran. Yang satu
kakinya terlalu besar sehingga tidak muat, dan yang satu kakinya terlalu kecil
sehingga kebesaran.
“kemana
putrimu yang seorang lagi nyonya?” kata pangeran heran, karena tidak menemukan
gadis yang disebut adiknya Deas.
Betapa
terkejutnya sang ibu tiri, ia tidak menyangka jika sang pangeran mengetahui keberadaan Cinderella.
“eh?
Apa maksud tuanku, Cinderella tidak mungkin cocok dengan sepatu kaca ini yang
mulia, sedangkan dia sendiri tidak hadir pada pesta itu. Sungguh tidak mungkin
dia orang yang tuanku cari” kata ibu tiri heran.
“aku
tidak peduli dia datang pada pesta itu atau tidak, seluruh gadis dinegeri ini
berhak mencoba sepatu kaca ini.” Titah pangeran.
“uhh
baiklah... Cinderella! Kemari turunlah” teriak ibu tiri memanggil Cinderella.
Betapa
terkejutnya Cinderella, ia tidak menyangka bahwa sang ibu tiri akan
memanggilnya. Harapannya kini muncul kembali, ia bisa bertemu kembali dengan
sang pangeran! . tanpa menunda waktu Cinderella segera turun menuju tempat
ibunya, ia sungguh berbunga-bunga.
“ada
apa gerangan ibu memanggil saya?” tanya cinderella, melihat sang pangeran ia
langsung memberi salam hormat.
“
sungguh kami tersanjung atas kedatangan pangeran.” Cinderella tersenyum.
“nona
maukah kau mencoba sepatu kaca ini?” tanya sang pangeran, ia terpesona pada
gadis didepannya, tampak cantik dan anggun biarpun menggunakan pakaian pelayan,
ah ia kenal gadis itu, gadis yang berdansa dengannya.
“sungguh
kehormatan yang mulia mempersilakan hamba mengenakan sepatu kaca yang indah
ini.”
Cinderella
pun mencobanya dan tiba-tiba cahaya perak menyelimuti tubuhnya. Wussshhh...
kini Cinderella memakai sebuah gaun yang sangat indah.
“kaulah
gadis yang selama ini ku cari Cinderella, maukah kau menikah denganku?” kata
pangeran penuh kekaguman dan keterkejutan.
Dengan
mata berkaca-kaca dan kebahagiaan yang meletup-letup Cinderella mengangguk
terharu. Mereka pun ke istana, dan menikah. Cinderella yang baik, ia mengajak
ibu dan saudara tirinya tinggal di istana bersama dengannya biarpun ia telah di
aniaya. Ibu dan kedua kakak tirinya amat terharu, mereka berjanji akan menjadi
orang yang baik.
Dan
satu yang membuat Cinderella terkejut,
ia melihat Deas pada pesta pernikahannya, ia tidak menyangka ternyata Deas
adalah adik sang Pangeran pujaannya, kini pertanyaannya telah terjawab kenapa
Deas bisa memiliki gaun yang indah itu. Tidak, tidak hanya Cinderella yang
terkejut tapi seluruh rakyat negeri itu, orang yang selama ini mereka temui
yang mereka kira orang baik yang aneh tapi ternyata adalah seorang pangeran
yang gagah memesona.
Deas,
setelah perayaan pernikahan kakaknya ia memutuskan tinggal di kastil dekat
pantai di bagian utara yang masih menjadi wilayah kerajaan mereka. Dia memutuskan
sepenuhnya untuk mendalami hobinya membuat penemuan. Dan cita-citanya terwujud dia
menjadi seorang ilmuwan terkenal hingga akhir hayatnya. Menggenggam prestasi
dan cinta nya erat-erat. Dia masih mencintai gadis yang sama. Cinta yang tak
pernah tersampaikan. End.
*maap kalo gambar admin jelek :3
Hiks,hiks
akhirnya selesai juga cerita pangeran tanpa seorang putri *horeee
plok,plok,plok.. sedikit memainkan imajinasi boleh yak.. writer bikin ini
cerita sambil nangis bombay looh.. eh, bukan, bukan karena ceritanya tapi karena
mikir soal UAS !! haha ga nyambung T.T but it’s ok. Semoga para reader
terhibur, lebih-lebih kalo terharu hahaha makin gaje aja nih... thanks for
coming. ^0^

