Senja menghilang di balik mega, malampun mulai
merajai. Dingin menelisik diantara tulang-tulang mencoba membekukan tubuh mungil itu.
Langkah-langkah kecil menyusuri jalanan kota, kerlap-kerlip, bintang? Tidak,
itu bukan bintang. Itu adalah lampu-lampu di seluruh kota, yaps sebuah kota
kecil yang berkembang cukup pesat. Tak banyak daerah gelap disana, yang ada
lampu-lampu besar berjarak beberapa meter di setiap pinggir jalannya
menunjukkan terangnya kota itu.
Gadis itu terus berjalan menyusuri trotoar di sebuah
daerah perumahan elit. Wajahnya tampak lelah. Dia bukan gadis yang lemah, dia
gadis periang. Lihat saja gurat wajahnya yang halus menunjukkan betapa ramahnya
dia, wajah manis itu, penuh kepedulian, memandang setiap orang penuh hormat
serta bersahabat, kepribadiannya yang tampakkan wibawa. Siapa pula yang tega
membuatnya bersusah payah hingga ia tampak kelelahan?
Gadis itu terus berjalan hingga sampai lah ia
didepan sebuah rumah, rumah ini tidak seperti rumah-rumah di kawasan elit.
Halamannya tidak luas, walau begitu tampak asri dengan indahnya bunga-bunga dan
tumbuhan hijau lain yang hidup disana, rumah itu tidak mewah hanya saja tampak
elegan. Tampak bahwa penghuninya ramah dan bersahabat, tidak arogan. Ya, itulah
rumah gadis itu. Gadis yang teramat lelah. Kusut sekali dia.
“assalamu’alaikum, Eci pulaaang...”
Terdengar suara halus yang di buat seceria mungkin
oleh gadis itu ketika memasuki rumah. Tak ada jawaban. Sepi. Hembusan nafas
kecewa memenuhi keheningan, Eci nama gadis itu. Tampak benar-benar lesu. Ia
tahu ini akan terjadi, sudah berulang kali ibunya pulang malam. dan seringkali
pula ia dihadapkan dengan rumah nya yang sunyi tanpa penghuni. Eci langsung
saja naik ke atas. Kekamarnya. Merebahkan tubuhnya, mencoba merileks kan tubuh
dan fikirannya. Perlahan bulir-bulir bening mengalir disela kelopak matanya.
Membentuk garis-garis dipipi nya yang lembut. Eci menangis.
“Ayah... Eci rindu Ayah... sudah 2 tahun ayah
pergi, meninggalkan eci dan juga ibu.. ibu sekarang sibuk yah, ibu tidak
seceria dulu, tidak menemani eci lagi, tidak menyambut ketika eci pulang atau
berangkat sekolah.. eci merasa sepi Ayah.. Ya Rabb... kenapa pula kau renggut
ayah begitu cepat sehingga kami tak kuasa menahan semua ini..”
Rintihnya dalam diam, air mata itu tak dapat terbendung,
mengalir perlahan menunjukkan betapa pedih hatinya, betapa tak kuasa ia
menyimpan beban dipundaknya. Ia ingin mengadu, ia ingin protes, tapi semua itu
tak kuasa dilakukannya. Ia hanya bisa menangis. Menangisi semua kehampaannya.
Malam itu Eci terlelap, membawa semua beban dalam tidurnya. Tanpa ia menyadari
ada seseorang yang setiap malam selalu berdo’a untuknya, mengucapkan selamat
tidur dan mengecup keningnya. Begitu pula malam ini. Wanita paruh baya, tampak
kali wibawa dan sifat keibuannya, mengelus-elus kepala Eci, memperhatikannya,
lalu tersenyum. Tak ada beban disana, hanya rasa syukur dan tabah yang tak
terkira. Wanita itu adalah ibu eci, dia yang ketika pulang selalu mengecek anak
gadisnya, selelah apapun ia, ia selalu
dan selalu menyempatkan diri melihat eci biarpun eci sudah terlelap jauh dalam
tidurnya.
********
Pagi yang cerah, mentari tampilkan pesonanya.
Tunjukkan ego bahwa ia raja siang sejati. Eci telah beranjak dari tidurnya,
mengompres matanya yang bengkak akibat tangisan bisunya. Tok.. tok.. tok..
suara pintu di ketuk.
“Eci? Sudah bangun belum? Hari ini ibu buatkan
sarapan enak untukmu, nasi goreng omelet kesukaanmu, cepat turun ya nak, nanti
sarapannya keburu dingin..”
Terdengar suara lembut dari balik pintu, betapa
terlonjaknya Eci mendengar suara ibunya pagi ini. Sungguh hal yang sangat
mengejutkan. Bagaimana tidak, sudah hampir dua tahun semenjak kematian ayah,
ibu tidak menyuruhnya sarapan hanya sarapan yang telah terhidang, hampir dua
tahun pula dia menghabiskan sarapan dengan sunyi, tanpa ada canda tawa. Kini
ibunya memanggilnya, begitu lembut. Tak ada fikiran lain lagi dalam fikiran
Eci, tak buang waktu ia langsung bersiap membawa peralatan sekolahnya dan
berlari kemeja makan. Hampir Eci kecewa melihat meja makan yang hanya ada
hidangan makanan tanpa penghuni. Hingga tampak siluet tubuh yang terbalut
celemek lucu keluar membawa semangkok sup panas, itu ibu nya. Wajahnya yang
kewalahan membawa sup, tampak lucu. Seulas senyum tulus dari wajah Eci, wajah
yang benar-benar terharu, ia tak menyangka akan melihat sosok ibunya di sini,
sosok ibu yang dirindukannya.
“Eciii? Kamu sudah siap? Kok malah bengong, cepat
duduk dan sarapan, nanti nasi goreng omelet mu dingin,.. oh iya ibu juga buat
sup ayam, kamu mau? Hati-hati masih panas..”
“eh..? i, iya bu, ini sudah siap, eci duduk ya bu?
Hehe...”
Eci benar-benar tak habis pikir, ia merasa tampak
canggung dengan keadaan yang sudah lama sekali tidak terjadi. Itu ibunya,
didepan matanya, seperti tak pernah terjadi apapun sebelumnya. Ia terus
berfikir mencoba mencari topik pembicaraan yang pas di meja makan.
“eci? Enak tidak makanannya? Kok diam aja?
Jangan-jangan gak enak ya?”
Ibuku membuka pembicaraan, aku gugup.
“eh, enak kok bu’.. hehehe Cuma kaget aja, ga
biasanya.. hehe..”
“Kamu ini... eci kurang suka ya kalo ibu temenin
eci sarapan?”
Tanya ibu dengan wajah yang dibuat-buat tampak
sedih dan manja. Eci tertawa melihat tingkahnya.
“hahaha... tidak kok bu... Eci senang ibu ada
disini, setidaknya sekarang tidak sesepi kemarin, ada ibu disini yang menemani
eci sarapan”
Eci menjawab dengan ikhlas dan tulus. Ya dia sangat
bahagia pagi ini.
“maafkan ibu ya Eci... ibu tidak bisa menjadi ibu
yang baik buat kamu, membiarkanmu sendirian dirumah ini... ibu benar-benar
minta maaf...”
“eh? Tidak apa ibu... ibu itu seorang ibu yang baik
buat Eci, karena ibu baik makanya Eci bisa tumbuh seperti sekarang ini. Ibu
memasakkan makanan tiap hari, bangun dipagi buta, memasak ya berkerja, ibu Eci
adalah Ibu yang paliiiiiing hebat sedunia”
Eci berusaha menghibur ibunya yang tampak sedih, ia
tahu beban ibunya sudah cukup besar, tak perlu lah ia menambah lagi beban
ibunya itu. Dengan ikhlas ia tersenyum dan tertawa untuk ibunya. Dalam hatinya
ia bertekad, akan selalu dan selalu membantu ibunya, membuatnya bangga.
Disisi lain Ibu Eci menyesali atas ketidak becusannya,
ia sadar kini putrinya telah tumbuh dewasa, jauh dari pengawasannya. Dia
berfikir, lihatlah putri ku gadis kecil ku kini telah menjadi seorang wanita
yang tangguh dan cantik. Putriku gadis yang tegar, betapa kokohnya dia, betapa
ahh sungguh aku berharap putri kecilku menjadi putri yang selalu aku banggakan,
lindungilah ia tunjukkan jalan yang terbaik untuknya ya rabb... itu doa dalam
benaknya, yang tanpa ia sadari doa-doa itu menjadi pilinan pilinan indah yang
menjulang keatas, langit sang kuasa.
“terimakasih ya Eci, ibu sungguh menyayangimu, kamu
putri yang sangat ibu banggakan”
Ibu tersenyum, menatap lamat-lamat putrinya,
menikmati kebersamaan itu.. karena ia sadar, keadaan ini entah kapan lagi akan terulang.
“iyaa sama-sama ibuuu... Eci sayang ibu, ah ya,
sudah waktunya Eci berangkat sekolah, takutnya nanti terlambat. Eci berangkat
dulu ya bu... Assalamu’alaikum... J”
“eh? Sudah mau berangkat? Iya deh Eci, hati-hati
ya, sekolah yang benar.. wa’alaikumsalam..”
Eci, tahukah kau bahwa ibumu sangat
merindukanmu,lihatlah ia. Diam-diam dia memperhatikan mu, mengikuti setiap
langkahmu hingga kau tak terjangkau dari pandangan matanya. barulah ia beranjak
dari kusen jendela, bergegas kekantor.
*****
“Eciiii.... tumben kamu berangkat agak siangan?
Kamu sakit? Demam? Kurang enak badan?”
Cecar dea yang melihat Eci baru masuk ke kelas.
“eh? Apaan sih dea, Eci baik-baik aja kok, kamu ga
usah khawatir, aku hanya ingin berangkat agak siangan aja kok..” jawab eci
dengan santainya.
“heeeee? Tumben banget! Biasanya kamu saingan tuh
sama satpam berangkat paling pagi. Sungguh tidak biasa, hahaha tapi ya ga
apa-apa lah sekali-sekali, eh iya Ci, nanti pulang sekolah mau temani aku tak?”
“hahaha boleh,boleh... Eci nganggur kok dea.. mau
kemana emang?”
“yesss.,,, asik.. temani aku ke Artos yaaa... aku
mau cari hadiah untuk Miko.. hehehe dia ulang tahun besok,..”
“ummm wallah, oke deh okee...”
*****
Bel sekolah
berdenting, tanda sekolah usai, para siswa pun berhamburan keluar. Ada yang
langsung pulang ke rumah, nongkrong diwarung pinggir jalan, santai-santai di
sekolah, banyak hal yang mereka lakukan, begitu pula dengan Eci dan Dea, sesuai
kesepakatan pagi ini mereka bergegas ke tempat pusat perbelanjaan kota yaitu
Artos.
“dee memang kita
mau cari disebelah mana?” tanya Eci ketika mereka telah sampai di Artos.
“dilantai 3
langsung aja, tempat bagian toko buku, ada buku yang dia inginkan, kalo ga
salah hari ini sudah dipasarkan Ci,,. Kamu tahu kan buku yang ku maksud??
Hehehe”
“ooh.... iyaya,
miko kan suka sekali baca buku, dia nge-fans berat sama pengarang fiksi yang
udah lama tenar itu ya? Yang buku-bukunya masuk kategori best seller itukan?”
“nah itu tau, iya
cii, hari ini buku terbarunya sudah mulai dipasarkan,kalau ga salah judulnya
Do’a yang Terpilin, pasti dia seneng bangeeet... aaah aku udah ga sabar pengen
beli buku itu, ahh iya, setelah itu kita langsung cari tart ulang tahun ya..
ummm di toko McSweet aja kali ya cii, katanya disana banyak banget pilihannya,
mau cari yang kayak gimanapun juga ada...”
“oke deh oke..
kamu semangat banget, kita langsung ke lantai 3,..”
Eci dan Dea
segera bergegas menuju lantai 3, entah mengapa hari apapun itu Artos selalu
saja sesak. Begitu pula hari ini, dimana-mana lalu lalang manusia baik dari
kecil, remaja hingga dewasa. Setelah cukup lama berkeliling, dan membeli buku
yang dia inginkan, kami pergi ke sebuah toko ice cream.
“Cii kamu mau
rasa apa??”
“rasa coklat
vanilla aja dee”
“okkee deh hari
ini aku yang traktir karena kamu udah mau nemenin aku seharian ini”
“hahaha cieee dea
baik banget deh, kalo gitu tadi seharusnya aku minta macem-macem aja ya dee”
ucap Eci menggoda Dea.
“Ecii... hahaha
ya ga apa-apa kalo kamu mau nambah lagi cii.. mumpung aku lagi baik..”
“cieee Dea lagi
baiiik... eh itu pesanan kita datang,..”
Eci dan Dea larut dalam kegembiraan, bercanda tawa.
Kemudian mereka melanjutkan ke toko kue membeli kue ulang tahun untuk Miko.
Hingga petang menjelang, Eci dan Dea baru selesai. mereka berpisah di
persimpangan jalan.
“Eciiii... makasih banyak ya untuk hari ini, kamu
sahabat terbaikku, ahhh semoga rencana nya sukses, apa jadinya kalau tanpa Eci,
mungkin hari ini ga bakal seasik sekarang...”
“hahaha sama-sama Dee... kamu kok mendadak mellow
sih, oke deh daaah dea, sampai ketemu besok, semoga kejutanmu lancar ya..”
“iyaa Ciii daaah Eci... salam untuk mama mu ya..”
Setelah itu mereka kembali kerumah masing-masing,
hari telah gelap. Tepatnya pukul 20.30
Eci sampai dirumahnya. Rumah itu gelap. Eci menatap rumah itu, Aaah seperti
biasanya tak ada orang, tapi hari ini sekalipun tak ada orang, sekalipun tak
akan ada yang menjawab salamku aku akan tetap mengucapkannya seperti dulu.
Fikir eci. menghapus gundah yang mulai merajai, kini dia bisa lebih
bersemangat.
“Assalamu’alaikum ma.. Eci pulang...”
Hening.
Lampu teras ia hidupkan, kini rumahnya tidak gelap
seperti tadi. Ketika melintas ruang tengah ia melihat remang-remang seseorang
yang tengah terbaring. Setengah was-was dia mendekati sofa tempat orang itu.
Tampak seorang wanita paruh baya terbaring disitu, terlelap.
“ibu... kenapa ibu tidur disini?” Eci melangkah
mendekat seraya mengusap bahu ibunya.
Ia menatap wajah ibunya, lihatlah. Banyak kerutan
diwajah ibunya, wajah lelah itu, tampak tenang, tanpa beban. Mencoba terlelap dalam
tidurnya.Tubuhnya berkeringat, dalam tidur nafasnya menderu. Dipeganglah tangan
tua yang mulai keriput itu oleh Eci. Dingin. Segera saja Eci mengambil selimut,
dan menyelimuti ibunya. Ibu sakit! Fikiran Eci melayang, mukanya mulai pucat.
Ia menyadari sesuatu. Seperti ini dulu ayahnya, berkeringat dingin,
perlahan-lahan mulai kejang-kejang. Ahh dia tak mau mengingatnya. Kenangan itu
terlalu menyakitkan. Tanpa fikir panjang Eci langsung mencari kunci mobil,
menyiapkan mobil itu, kemudian dia kembali ke tempat ibunya berusaha memapah
ibunya. Dengan sekuat tenaga ia membawa ibunya ke mobil. Ia baringkan ibunya di
jok belakang. Menyelimutinya.
Kini Eci mulai konsentrasi menyetir, dia tidak
boleh gugup. Dia harus bisa membawanya kerumah sakit sebelum terlambat, dia
tidak ingin lagi kejadian yang telah lalu terulang kembali.
Ibunya langsung di bawa keruang gawat darurat.
Lihatlah tempat ini, tempat yang sama. Tempat yang telah merenggut ayah dalam
hidupnya. Lorong putih ini, ahh Eci mulai pusing, dia terjebak di antara
kenangan dan nyata. Pikirannya melayang ke masa 2 tahun silam, ketika ia kelas
2 SMP. Malam itu hujan lebat, petir menderu, ayah dibawa ke tempat ini dengan
susah payah, dia kejang-kejang, belum sampai peralatan medis menyentuhnya nyawa
nya telah meninggalkan raga . ahh kejadian itu tepat didepan Eci. Ia hanya
terpaku, melihat seonggok raga tanpa nyawa. Apa yang bisa dilakukan anak kelas
2 SMP ketika itu? Membisu. Diam tak menentu.
Ibu telah di pindah ke ruang rawat inap. Lihatlah
dia, selang infush melekat ditangannya. Bau obat-obatan menyengat. Ibu
terlelap. Eci duduk disamping ranjang itu. Wajahnya pucat dan tampak lelah. Dia
benar-benar ketakutan. Tanpa sadar ia terlelap.
“Eci... bangun nak,...”
“ughhh... iya bu? Ada apa? Ibu haus? Biar Eci ambilkan..”
“tidak Eci, tidak. Ibu tidak haus, ibu hanya ingin
bicara..”
“ehh? Bicara apa bu? Ibu masih lelah, lebih baik
ibu istirahat, ibu bisa bercerita besok..”
“tidak Ci... ibu ingin mengatakannya semua, saat
ini juga...”
Eci terpaku. Apa pula yang ibu fikirkan. Eci
mengangguk. Dia diam menyimak.
“nak.. ibu minta maaf atas segala hal yang
menyakitkan mu, ibu sudah tidak becus menjaga mu selama dua tahun ini. Lihat
lah kau, sekarang Eci sudah menjadi gadis dewasa.. ahhh ibu benar-benar
menyayangimu nak.. ibu sudah menabung banyak. Kamu ahli waris tunggal. Kamu punya
paman dan bibi dikota sebelah. Alamat lengkapnya ada di laci kerja ibu, mereka
akan menjadi walimu. Jaga dirimu baik-baik Eci, ibu bangga padamu nak..
kemarilah peluk ibu mu yang bodoh ini..”
Ibu tersenyum, Eci langsung memeluk ibunya. Tak kuasa
ia menatap ibunya, air mata yang sedari tadi di bendungnya kini tumpah.
“tidak ibu.. ibu tidak bodoh.. ibu adalah seorang
ibu yang sangat hebat. Eci bangga punya ibu.. teramat bangga,.. Eci mohon
jangan tinggalkan Eci, tetaplah disini, didunia ini bersama Eci...”
Hening. Tak ada jawaban.
Kini hanya isak tangis Eci yang terdengar. Ia memeluk
erat tubuh itu. Teramat erat. Raga itu kini tanpa nyawa. Dingin membeku. Lihatlah.
Betapa terangnya tempat itu jika kau menyadarinya, secercah cahaya berpilin
indah. Melayang ke angkasa menjemput harapan. Semua malaikat yang menjadi saksi
meng Aminkan doa-doa ibu. Berjanji melindungi gadis kecilnya.