Minggu, 30 November 2014

Poetry

Ehm, admin ga gitu bisa kalo bikin judul, paliiiing males eh, :O :P hahaha buat reader yang mau kasih judul comment aja yakk... entar di pilih yang paling bagus hohoho
Part 2
Daun berguguran dimusim semi,
Terbang bersama sepi,
Tap, tap, tap, bunyi langkah kaki,
Melewati daun yang mati,
Langkahnya mantap sekali,
Tak ada keraguan dihati,
Cepat tegap mengejar mimpi,
Itulah orangtua kami,
Siang malam kesana kemari,
Bergerak disetiap hembusan nafas kami,
Tidak membiarkan lapar menyelimuti,
Ataupun sengsara yang menghantui,
Ibu, ibu, ibu dan ayah kami,
Sumber kehidupan kami,
Tempat berlindung kami,
Dan selalu menaungi,
Seulas senyum dipipi,
Tanpa beban sama sekali,
Dan satu harapan pasti,
Canda tawa dari kami,
Terimakasih untuk ibu kami,
Terimakasih untuk ayah kami,
Tak ada kata yang berarti,
Selain ucapan tulus dari hati,
Bumi siap bersaksi,
Langitpun ikut bersaksi,
Atas kasih sayang orang tua kami
Yang tiada seorangpun menandingi
Part 1
Ketika malam masih berbintang,
Mataharipun masih terlelap,
Saat itulah dua sosok tubuh bergerak,
Menyembah penguasa semesta,
Panjatkan beribu do’a,
Yang terpilin ke angkasa,
Untuk siapa?
Siapa lagi jika bukan anaknya,
Hey, sadarkah kalian?
Ketika kalian terlelap,
Ada beribu bahkan milyaran do’a,
Yang selalu dan selalu menyelimuti kalian,
Sujudnya selalu ada,
Senyumnya selalu bermakna,
Ikhlas jerih payahnya,
Tak dapat diukur dalam skala,
Mungkin tampak sederhana,
Tapi manfaat dan maknanya,
Sangatlah luar biasa bagi kita anak mereka,
Ibu, ibu, ibu, dan juga ayah,
Kalianlah tumpuan,
Kalianlah semangat dan nafas,
Kalianlah darah, darah untuk kami anak-anak kalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar