Disaat bintang tenggelam, bersembunyi dalam kabut mega. Disaat gelap gulita tampak,sesungguhnya mata ini masih melihat berjuta bintang yang temaram menyebar membentuk bermilyar-milyar galaksi yang tak terhitung jumlahnya. Memancarkan kerlap-kerlip kilau cahayanya. Menampilkan betapa megahnya, betapa hebat pesonanya hingga muncul berbagai pertanyaan, apa sebenarnya cahaya itu? Unsur-unsur apa yang bereaksi, sehingga ciptakan gemerlap seperti itu? Apa, apa, dan apa? Pertanyaan-pertanyaan yang tak akan ada habisnya, tak ada hentinya
Setiap detik, hembusan nafas, detak jantung bergerak. Tak ada hentinya, berputar seperti rotasi bumi.
"ahh bintangnya tak tampak" kata gadis itu.
Aku tersenyum dan menggeleng, "bintang itu selalu tampak Jae"
"bagaimana kakak tau kalau bintang itu tampak? Jelas-jelas hanya awan gelap yang tampak" gadis itu mendengus kesal merasa ditipu. Pandangannya turun ke tanah, lelah menatap langit yang tak kunjung terang, lelah mencari-cari setitik bintang.
"jae, kau tau kenapa kakak selalu menengadah? Menatap ke atas?"
"bukankah itu sifat kakak, selalu tertawa menatap kedepan memandang keatas, tidak seperti jae yang selalu menunduk"
Jae semakin menunduk, matanya tajam menghujam tanah seperti melucuti setiap lapisan kulit bumi, ahh aku tak seperti yang kau bayangkan Jae.
"apa kau menyukai material bumi Jae?"
Gadis itu bingung dan menatapku, pertanyaan apa pula itu.
"tidak kak, bahkan aku tidak tau unsur-unsur yang ada didalam sana, bagaimana bisa aku menyukainya?"
"Kalau begitu mengapa kau selalu melihat kebawah? Bukankah itu tmpat lapisan kulit bumi? Lalu apa yang kau lihat disana? Hanya ada tanah disana"
Jae menggeleng, mencerna pertanyaanku, Jae yang polos kini terdiam.
"Jae sama sekali tak memikirkan unsur bumi atau apapun itu kak, jae hanya..."
Gadis kecil itu kembali terdiam.
"jae, tahukah? Kakak selalu melihat ke atas karena bintang. Kakak selalu tersenyum dan tettawa karena bintang, lihatlah bintang itu indah bertebaran diatas"
"bagaimana bisa kak? Daritadi yang jae lihat hanya awan gelap, tidak ada keindahan disana"
Aku tertawa, betapa polosnya pertanyaan itu.
"jangan kau lihat secara kasat mata jae, lihatlah menggunakan hatimu, bagi kakak bintang selalu bertebaran dilangit, bintang-bintang orang yang kita sayangi. Mereka selalu mengawasi kita, memperhatikan kita"
"benarkah kak? Kakak tidak bohong? Mereka melihat jae? Aduh apa yang jae lakukan, jae tidak dandan yang cantik untuk bunda, jae tidak melihat mereka, betapa jahatnya jae selama ini,"
"hahaha Jae tidak jahat, jae hanya belum tahu, kakak yakin bunda memaafkan jae, asalkan jae angkat kepala, tataplah kedepan, tersenyumlah, bunda paling suka melihat jae tersenyum."
"bagaimana bisa bunda suka dengan senyum jae kak? Bahkan bunda tak pernah melihat senyum jae"
"jae, bunda sudah membayangkan senyum jae saat jae masih dalam kandungan, bunda selalu bertanya-tanya seperti apa senyum gadisku nanti, pasti manis sekali, bunda bilang sambil tersenyum senang, kalau jae tahu seperti itulah kakak melihat bintang, tak tampak memang jika kasat mata tapi lihatlah dari hati jae"
"bunda pasti cantik dan ceria ya kak? Jae rindu Bunda, apa bunda rindu jae?"
"tentu jae, ibu mana yang tak rindu anaknya, bunda pasti sedih kalau lihat jae yang sedih, jae tersenyumlah untuk bunda, cerialah untuk bunda"
Jae tersenyum padaku, lalu dia menggeleng, rambut ikalnya bergerak pasrah menerima gelengan keras jae lihatlah mata bulatnya begitu menggaemaskan, adik kecil yang manis. bunda, jae seperti yang engkau bayangkan, cantik dan menggemaskan.
"tidak kak, jae tersenyum tidak hanya untuk bunda, jae tersenyum untuk kakak juga."
ahh... Adik kecilku yang manis. Betapa bermaknanya kata-kata itu untuk kakakmu ini. Aku hanya bisa tersenyum mendengar kata-katanya. Gadis kecil yang polos dan lugu. Sang malaikat kecil.
Manusia itu penuh cerita. sadar atau tidak sadar hidup yang menurut kita tak ada maknanya sama sekali bahkan akan sangat bermakna dari sudut pandang yang berbeda. peluk erat segala kejadian yang kau miliki. maka kebahagiaan akan kau dapatkan.
Senin, 16 Maret 2015
Little princes
Sabtu, 14 Maret 2015
Rindu!!!
Rindu, sekelumit rasa yang muncul
dari dalam hati kita, sebuah rasa yang penuh misteri, aku tak dapat melihatnya,
hanya merasakannya, seperti orang buta yang berusaha membaca, tak tampak
wujudnya, hanya merasakan bentuk-bentuk timbul tulisan brail itu.
Rindu sebuah rasa yang
menyelimutiku, menggelitik hati dan jiwaku,terkadang menusuk relungku. Rindu ciptakan
dunia semu. Mimpi-mimpi merangkai kisah memunculkan fana tanpa daya,
menerbangkan diri hingga puncak tertinggi dunia, dan akhirnya membiarkan jatuh
berdebam tanpa perlindungan, remuk redam. Itulah rindu yang tak pernah
berbalas, yang tak memiliki obat pereda,. Rindu, seperti harumnya minyak zaitun, seperti
manisnya madu, kau tak bisa menahannya terus mengalir dalam jiwamu menciptakan
sebuah bendungan besar. Rindu, sebuah
rasa tertahan yang menyiksa jiwa, terus membayang sesuatu yang membuatmu rindu,
hingga sedikit saja stimulus itu menyentuh bendungan rindu dalam jiwamu, maka
sekejap itulah rindu yang telah terbendung lama itu buncah berantakan, hancur
tanpa daya tak ada tempat menampung lain, lain hal jika gayung bersambut,
ketika obat rindu itu ada, maka dunia seperti surga fana, bahagia.
Obat rindu? Kau tak akan pernah
menemukannya di apotek manapun, kau tak akan menemukannya dipabrik obat manapun
didunia ini, kau tak akan pernah bisa meminta dokter pribadimu mencarikan obat,
kau takkan bisa memaksa orang farmasi membuatkannya untukmu, yang bisa membuat
obat rindu itu hanyalah dirimu. Ya, hanya dirimu sendiri, dan penyebab
kerinduan itu.
Adakala semua rindu itu
menyenangkan, menyakitkan, entahlah. Hanya kau yang bisa merasakannya dan
memaknai setiap kerinduan itu.
Rindu, rindu,rindu! Hahaha entah
itu opini atau puisi, gak paham juga yang penting ngungkapin perasaan dan
pemikiran! Semua ini karena sebuah stimulus. Mimpi bertemu mama tersayang,
ibunda tercinta yang jauh dipulau seberang (lebaay) >_< hahaha... sekian
lama tak berjumpa, penuh rindu yang menyesakkan, ditanah rantau haruslah tahan
banting. (sok kuat, padahal nangis bombay!) Maaaa anak gadismu kangeeeeeeen
berat...
Sabtu, 28 Februari 2015
Sales Menurut Gue!!
Entah
kena angin apa writer mulai berimajinasi... mengatakan hal remeh temeh, yang
kalo dipikir-pikir bener juga, (senyum keren broo)...
Ucapan,
perkataan, ketegasan, dan pembawaan seseorang itu bisa mengajak orang lain
mengikuti apa keinginannya, walau entah suatu hal itu menyenangkan,
menyebalkan, membosankan, tidak menarik, atau apapun yang membuat mu terkadang
menyesal karena telah mengikuti ajakan orang itu. Lihat aja sales, sales itu
supaya bisa sukses dan laris harus memiliki ilmu juga. Tidak cuma sekedar
ngomong, harus punya ketertarikan, teknik, bahkan intonasi suara itu juga
mempengaruhi. Itu kalo mau sukses dan dagangannya laris! Oke, yang aku maksud
teknik disini adalah cara-cara menarik pelanggan, seorang sales itu wajahnya
harus meyakinkan, tegas, ramah, sabar, tidak mudah menyerah, asik, dan pastinya
okelah (maksaaa bangeeet!!), bukan apa-apa sih, karena menilik dari pengalaman
aja sebenarnya. Iya pengalaman! Dulu tuh ada sales yang datang kerumah,
perempuan, lumayan, keringatnya? Jangan di tanya! Dikit-dikit ngusapin tisu ke
leher, kening, apa aja yang berkeringat, eh
tapi gak semua di lap juga sih, hahaha... si mbak-mbak itu senyum ramah
tapi tanggung, karena melihat ekspresi wajahku yang datar pas bukain pintu,
mending kalo senyum terus mempersilahkan
masuk, syukur-syukur dapat minum, tapi boro-boro deh, bayangan itu
musnah sudah bukannya disuruh masuk apa gimana pintu malah ditutup lagi.
Mungkin si mbak sales bingung juga ngebatin percuma donk dia senyum cuma
dicuekin. Si mbak sales mulai pasrah, kemudian dia berusaha bangkit (putar
haluan nih setelah di kacangin anak kecil). Sebelum dia benar-benar melangkah
pergi saat itulah seperti angin musim gugur, dingiiin... dunia ini indah.
Ibu-ibu yang sangaaat cantik (ehem, mama memang wanita tercantik fersi mata
milikku. Hahaha terlalu objektif. Biariin!!) beliau tanya ada apa ya mb’? ehhh
si mbak-mbaknya mendadak semangat bangeet, tiba-tiba mukanya cerah banget,
senyumnya merekah. Tidak perlu menunggu di tanya atau disuruh dua kali mbak
sales udah cerita panjang lebar. Si ibu cantik Cuma manggut-manggut sok paham,
setelah kira-kira penjelasan si sales cukup dan mulai menawarkan barang yang
dia bawa si ibu senyum, “ma’af banget ya mbak saya belum membutuhkan
barang-barang itu, mungkin lain kali aja”, mendadak perasaan bahagia mbak-mbak
tukang sales hilang sudah. Dia masih berusaha menawarkan, si ibu tetap aja gak
minat la wong mbaknya aja kalo nawarin biasa aja, usut punya usut ternyata sang
ibu udah punya barang itu semua waktu ada sales lain datang ke rumah, dan
tukang salesnya lebih meyakinkan dari pada mbak-mbak sales yang ini. Nah itu
salah satu contohnya, udah keringetan gitu, gak punya skill, so buang-buang
tenaga aja jadinya. Itu kalo sales yang turun kejalan-jalan, nah kita juga
punya sales yang eksekutif sebut aja MLM (atau multi level marketing) mereka
juga menarik pelanggan tapi ya berdasi rapi, atau duduk santai, gak perlu
capek-capek jalan deh, tapi yang jelas mereka punya pengaruh untuk menarik
pelanggan! (ini bukan magic). Oya intonasi suaranya juga pasti dan meyakinkan,
gak mungkin kan kalo kita nawarin barang dengan intonasi yang datar-datar aja,
muka tanpa ekspresi di gaplok entar lu sama pak bos. (hahaha..) sorry kawan,
makin gaje aja ini tulisan, kali-kali lah kan capek juga bikin cerpen yang
sedih-sedih mulu’, mau bikin cerpen yang happy ending tapiiii gak dapet ide
nya.. L
Kamis, 08 Januari 2015
Love Story : Ketika Cinta Kupegang Erat
Pernahkah
terfikir cerita dongeng tanpa seorang putri? Hanya ada pangeran disana. Hey,
mana ada pangeran tanpa seorang putri!. Cerita dongeng darimana pula itu?. Kau
tak percaya? Cerita itu benar adanya! Baiklah jika kau memaksa aku akan
menceritakannya.
Pada
suatu hari... tidak, ini bukan dongeng kebanyakan yang menggunakan kalimat
pembuka seperti itu, kita sudah di era modern. Ehm,... sebaiknya aku mulai
bercerita sebelum kisah ini luntur dalam ingatanku.
Bening,
sebuah bulir embun yang tersesat. Berada diujung daun dan sebentar lagi
terjatuh karena daun itu tak kuat lagi menahan beban sang embun. Perlahan... perlahan.. bulir itu masih
bimbang antara menjatuhkan diri ke tanah atau bertahan hingga matahari
benar-benar terbit. Butir embun itu akhirnya memutusan untuk terjatuh. Ketika butir
embun itu bersiap, tiba-tiba goncangan kencang datang, sebuah jaket kulit
menerpa daun tempat bulir embun itu berpijak. Belum sampai ia jatuhkan diri,
sudah berpindah bulir air itu pada jaket kulit yang terus bergerak, perlahan ia
mulai mengalir menyisakan jalan air. Basah. Semakin lama tubuhnya semakin tipis
dan kemudian menghilang. Sungguh menyakitkan jika kita menghilang secara
perlahan.
Apakah
kau berfikir ini kisah sebutir embun? Tidak. Sebutir embun ini bukanlah sang
tokoh utama. Dia hanya sebagian kecil pelengkap dalam sebuah cerita. Hey,
sadarkah kau tadi aku berkata tentang jaket kulit? Oke, oke.. sekarang kita
mulai fokus. Ehm, sebelum kalian salah persepsi aku akan meluruskan. Tokoh
utama ini bukanlah sebutir embun ataupun jaket kulit. Tokoh utama kisah ini
adalah seorang pemuda yang memakai jaket kulit, dimana dia tengah berlari dan
tidak sengaja menyibak daun tempat setitik embun itu tinggal. Oke, sekarang
kalian mulai paham? Jika iya, mari kita lanjutkan kisah ini, sebelum
kepingan-kepingan cerita mulai hilang.
Pemuda
itu berlari. Berlari diantara ruas-ruas jalan yang mulai tak terawat, yang
mulai dipenuhi dengan semak belukar. Ah... hari ini dia baru saja menjelajah
separuh hutan ini. Apa pula yang dikerjakan pemuda itu, menjelajah separuh
hutan? Tidak. Dia tidak hanya berkeliling menjelajah. Disana dia mencari
berbagai macam tumbuhan. Menelitinya. Deas nama pemuda itu. Seorang pemuda yang
bercita-cita menjadi seorang ilmuwan.
Kalian
bingung? Mengapa peran utama pemuda itu? Bukankah kisah ini tentang pangeran
tanpa putri? Bersabarlah. Biarkan kepingan cerita ini terbentuk dengan
sendirinya tak perlulah terburu-buru.
Deas.
Pakaiannya kucel sekali sore ini. Lihatlah dia. Daun, ranting tersangkut di
pakaiannya. Keranjang dengan tanaman yang entah apa namanya penuh membeludak.
Satu dua terjatuh. Dan kemudian dipungutnya kembali. Dia berkeringat, tapi tak
tampak lelah. Wajahnya terlihat bersemangat. Sepanjang jalan dia menyapa orang
desa. Mereka mengenalnya, seorang pemuda yang tinggal di istana. Keluar istana
setiap hari minggu, pergi kehutan dan kembali dengan sekeranjang penuh
tumbuhan. Pemuda yang ramah pada siapapun. Si ilmuwan muda. Sebutan untuk
pemuda itu bagi mereka. Ya, hanya sebatas itu yang mereka tahu.
Tahukah
kau siapa sebenarnya pemuda itu? Tidak. Tidak ada yang tahu dan mengenal pemuda
itu selain orang-orang istana.
Pagi
ini, setelah membawa keranjang tumbuhan itu Deas kembali kehutan. Ia
membersihkan dirinya dan berdandan rapi. Tidak, kali ini dia tidak pergi ke
tengah hutan. Dia menyusuri pinggir hutan dan menuju sebuah sungai. Setelah
berada di dekat sungai ia mulai memanjat sebuah pohon. Mengintai. ‘ah... gadis itu datang!’ batinnya berkata.
Gadis itu membawa ember. Mengambil air dan kemudian pergi, begitu terus berulang kali. Hingga ia istirahat di sebuah
batu pinggir sungai. Lelah.
Setelah
beberapa menit mendengar gadis itu bersenandung, Deas turun dari pohon tempat
persembunyiannya dan kemudian menghampiri gadis itu. Ia gugup, ah teramat
gugup, berulang kali sudah ia merapikan pakainnya. Bagaimana tidak ia akan
menyapa gadis pujaannya!
“hey,
lagu yang merdu Cinderella...” sapanya pada gadis itu.
“oh,
hey kau mengagetkan ku Deas. Sejak kapan kamu disini? Maaf aku tak
menyadarinya..”
“hahaha...
aku baru saja tiba, mendengar senandungmu yang merdu itu maka aku kemari”
“terimakasih
Deas, aku merasa tersanjung. Hey, dapat apa hari ini dihutan? Tumbuhan aneh
lagi? Ah ya.. sudah menciptakan penemuan baru ilmuwan muda?”
“hey,
hey, kamu bertanya sekaligus Cinderella! Ehm, tadi aku menemukan beberapa
tumbuhan baru, selebihnya ya tumbuhan biasa yang aku perlukan seperti, Eurycoma Longifolia (Pasak Bumi), Ginko Biloba, Murbei, Orthosipon Stamineus
Benth, Ocimum Basilicum L, Reulla Napifera Zoll Mor, Datura Metel L, Melaleuca Leucadendra
L.”
“Deas,
kamu selalu hebat ya. Mengetahui berbagai macam tumbuhan, kamu belajar darimana
sih? Bahkan di tempat kita tidak ada buku-buku yang cukup memadai” Cinderella
tulus mengatakannya pada Deas, dia benar-benar kagum pada pemuda itu.
“ah,
itu... uhm hanya kebetulan saja aku mengetahuinya kok” Deas bingung ingin
mengatakannya, dia hanya bisa tersenyum. Belum saatnya Cinderella
mengetahuinya.
Ketika
mereka sedang asik berbincang-bincang, terdengar suara lantang seorang wanita.
“Cinderella!!
Disini rupanya kamu! Ah, bersama pemuda
biasa, kamu lupa akan tugasmu ya! Banyak pekerjaan rumah yang belum kamu
selesaikan, kamu malah asik bersama pemuda tak jelas seperti ini! Ah, tapi
kalian memang cocok, gadis biasa bersama pemuda biasa! Hahaha...”
“maaf
ibu, aku hanya beristirahat sejenak, aku benar-benar lelah membawa ember-ember
ini.”
“huh!
Alasan saja kamu! Bilang saja kalau kamu bertemu pemuda sok ilmuwan ini! Sudah
pulang sana! Kerja!” maki ibu tiri Cinderella.
“ehm,
maaf nyonya, Cinderella tadi memang benar-benar lelah dan kebetulan saya
melihatnya. Jadi, kami berbincang sejenak hingga nyonya datang, dan lagi
bukankah Cinderella memiliki kakak-kakak yang cantik. Mereka akan lebih tampak
cantik lagi bila ikut membantu, itu akan membentuk tubuh mereka menjadi bagus.”
Deas mencoba membantu Cinderella.
“pemuda
sok pintar! Ayo Cinderella kita tinggalkan dia!” kata ibu tiri seraya melangkah
dengan sangat arogan.
“baik
bu,... maafkan ibuku ya Deas, aku mohon pamit” Cinderella berusaha tersenyum,
sembari berlalu mengikuti langkah ibu tirinya.
“eh,
tidak apa, kamu yang semangat ya Cinderella.” Deas berusaha tersenyum,
sejujurnya dalam hatinya ia amat kecewa dengan perlakuan ibu tiri Cinderella,
ia ingin sekali membawa Cinderella pergi dari rumah itu. Tapi ia sadar itu tak
akan mungkin, keluarga akan menentangnya karena ia mendahului kakaknya.dan juga
apa Cinderella mau dengannya?
Sudah
sejak lama Deas memendam rasa pada Cinderella. Dan sudah sejak lama mereka
berbicara bersama, teman sejak kecil, Deas dan Cinderella. Setiap Deas ingin
mengatakan perasaannya Ia urung, karena ia sadar, Cinderella hanya
menganggapnya sebagai sahabat, teman kecilnya. Tidak lebih. Deas pun menyadari
bahwa lelaki yang amat dicintai Cinderella adalah kakaknya sendiri. Sang Pangeran,
putra mahkota.
****
Dua
hari lagi akan diadakan pesta topeng di kerajaan. Dimana semua gadis di seluruh
penjuru negeri datang untuk dapat melihat pangeran, berharap menjadi
permaisuri. Semua penduduk bersiap, begitu pula di keluarga Cinderella. Ibu dan
kakak tiri Cinderella hebohnya bukan main. Tapi sayang, itulah saat-saat
bersedih Cinderella. Gadis yang malang, ia tidak diperbolehkan pergi ke pesta.
Cinderella hanya bisa bersedih dan menangis, ia ingin sekali datang ke pesta
topeng itu.
Disisi
lain, Deas sibuk di perpustakaan membaca buku. Sesekali ia memperhatikan
jendela. Pandangannya lurus ke arah utara. Tempat kediaman Cinderella.
“hey
adikku Deas, tak bosankah kau disini? Membaca, membaca, dan membaca.” Tutur
sang pangeran kepada Deas.
“hahaha
entahlah kak, membaca selalu menyenangkan bagiku” deas tersenyum.
“hum...
Deas kakak punya permohonan, untuk kali ini saja kau perkenalkan dirimu kepada
rakyat agar mereka tahu bahwa masih ada satu pangeran lagi di kerajaan kita.
Bukan sebagai ‘ilmuan muda’ yang tinggal di istana, lagipula mau sampai kapan
kau berdiam diri terus.”
“iya
kak, mungkin aku akan hadir. Lagipula lebih menyenangkan di sebut ilmuwan muda
daripada seorang pangeran, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.”
“hahaha
aku mengerti perasaanmu Deas, maukah kau berkuda bersama kakakmu ini? Ah,
menyegarkan badan. Sudah lama kita tidak berkuda bersama”
“tentu
kak, mari kita berkuda”
Deas
dan kakaknya menghabiskan waktu dengan berkuda sore itu. Mereka tertawa
bersama.
***
Hari
pesta topeng pun tiba, pemuda pemudi satu dua mulai berdatangan memenuhi
istana. Pangeran dan Deas sudah siap. Deas mengintip diantara celah gorden. Dia
mencari seseorang. Tidak ada. Ah itu ibu dan kakak tiri Cinderella tapi tidak
ada Cinderella disana. Deas mendesah, dugaannya benar Cinderella tidak datang.
Deas pergi keruangannya mengambil sebuah kotak yang sudah ia persiapkan sejak
dulu. Malam itu ia memacu kudanya, deas berhenti dibawah sebuah pohon rindang
yang tidak jauh dari kediaman Cinderella, Deas melangkah mendekati sebuah
jendella di rumah cinderella, sayup-sayup terdengar isak tangis dari dalam.
“hiks,
hiks.... ingin sekali aku pergi ke pesta itu. Tapi mengapa mereka tidak ingin
mengerti! Andai ayah ada disini. Ia pasti sudah menyiapkan gaun yang cantik dan
mengantarkanku ke pesta itu. Aku ingin sekali bertemu pangeran, sungguh ku
mencintanya, aku tak kuasa lagi memperhatikannya dari jauh, mencuri dengar
kabarnya”
Cinderella
merutuki sepi, mengeluarkan seluruh isi hatinya dan menangis tersedu tanpa ia
menyadari kehadiran Deas di luar yang saat itu tengah terpaku mendengar ratapan
Cinderella, ia begitu terkejut mengetahui bahwa gadis pujaan hatinya mencintai
kakak yang di hormatinya.
***
Didekat
perapian tempat Cinderella meringkuk muncul percikan perak lalu Pofff.... ibu
peri muncul di antara angin yang berhembus, menjawab seluruh gundah gulana
Cinderella.
“oh
Cinderella ku yang malang, hapuslah air matamu, tak sepantasnya kau meratapi
kesedihanmu. Ibu akan membantumu nak, sekarang dengarkan baik-baik perintah
ibu, ambil sebuah labu yang paling besar di kebun, kumpulkan enam ekor tikus
dan bawa anjing peliharaanmu di depan, kumpulkan jadi satu di kebun ya sayang.
Kita akan membuat semua orang terkejut”
ibu
peri yang ramah, menampilkan senyum
teramahnya pada Cinderella. Tanpa berfikir lagi, Cinderella mengumpulkan
seluruh perintah yang dikatakan ibu peri. Sedangkan Deas? Dia terduduk dalam
gelap, memperhatikan Cinderella yang kewalahan kesana kemari, ia terdiam dan memegang erat-erat sebuah kotak.
Cinderella
berhasil mengumpulkan semua yang diminta ibu peri, badannya penuh dengan
keringat, nafasnya terengah-engah. Ibu peri tersenyum dan mengayunkan
tongkatnya. Tiba-tiba percikan perak muncul dari tongkatnya, semakin lama
semakin membesar dan menyelimuti cinderella beserta yang lainnya. Ketika cahaya
perak itu mulai menghilang tampak kereta labu lengkap dengan kudanya dan
seorang putri yang cantik jelita memakai gaun dan sepatu kaca yang indah. Deas
sangat terpesona melihat keajaiban itu, apalagi ia melihat sosok yang amat
dicintainya tersenyum gembira. Cinderella segera menaiki kereta labu nya dan
pergi menuju istana, tidak lama kemudian deas meletakkan kotak yang sedari tadi
di pegangnya erat-erat di dekat jendela. Deas kembali ke istana.
Dari
balik tirai Deas memperhatikan kakaknya berdansa dengan seorang putri yang
cantik jelita, Cinderella. Betapa pedih hati Deas melihatnya. Jam berdenting,
Deas amat terkejut begitu pula Cinderella. Cinderella langsung berlari keluar
istana, menuju kereta dan pergi. Kembali kerumahnya sebelum sihir ini
benar-benar menghilang. Deas yang berada di Istana hanya bisa berdoa agar
Cinderella selamat.
Paginya,
Cinderella bekerja seperti biasanya, tapi hatinya berbunga-bunga karena
peristiwa semalam. Ketika ia membersihkan bagian luar rumah tepatnya didekat
jendela, ia menemukan sebuah kotak, “untuk Cinderella” . penasaran dengan kotak
itu cinderella langsung membawa kekamarnya. Dibukanya kotak itu. Sebuah gaun
yang cantik lengkap dengan topengnya. Disitu juga terdapat minyak wangi buatan
sendiri. Dia langsung mengetahui bahwa itu pasti pemberian Deas. Tapi bagaimana
mungkin deas memiliki barang-barang ini?
Cinderella berfikir keras, tapi dia tidak menemukan jawabannya. Akhirnya
cinderella tidak ambil pusing dengan kejadian ini. Ia menyimpan barang tersebut
dan kembali meneruskan pekerjaannya.
***
Deas
melihat kakaknya bersedih. Sepatu kaca indah ditangannya memantulkan wajahnya.
“aku
sudah mendatangi setiap rumah di negeri ini, tapi tidak kutemukan gadis itu.
Apa yang harus kulakukan Deas?”
“apa
kakak begitu mencintainya? Apa yang akan kakak lakukan jika bertemu dengannya?”
“ya,
aku begitu mencintainya semenjak aku melihatnya untuk pertama kalinya. Aku tidak
pernah melihat gadis itu dimanapun. Hawanya begitu terpancarkan. Aku akan
menikahinya”
“biarpun
dia hanya seorang rakyat jelata? Gadis biasa? Yang sibuk bekerja? Kau siap
membahagiakannya?”
“aku
tidak peduli dia seorang rakyat jelata atau apapun itu! Aku mencintainya! Aku siap
membahagiakannya!”
“baiklah
kak, datanglah ke sebuah rumah didaerah utara. Disana Terdapat seekor anjing
penjaga, seorang ibu dengan dua gadis yang angkuh dan seorang gadis lugu. Datangilah
gadis itu dan cobakan sepatu kaca ini padanya. Gadis itulah yang sedang kakak
cari. Bahagiakanlah dia. Jangan pernah sekalipun kakak melukainya. Segeralah pergi.
Temui dia” deas berkata dengan ikhlas dan setulus-tulusnya, ia mengharapkan
kebahagiaan Cinderella begitu pula kebahagiaan kakaknya.
Pangeran
beserta pengawalnya langsung menuju TKP *(tempat kejadian perkara)! Eh,
maksudnya ketempat Cinderella (writer lagi ngantuk pemirsa). Di kediaman
Cinderella, dua kakak tirinya sedang asik bersolek, sedangkan ibu tirinya
sedang memarahi Cinderella, entah karena apa ia memarahi Cinderella yang
malang. Dari kejauhan tampak rombongan berkuda. Keluarga dirumah kecil itu
panik bukan main. Sang ibu tiri menyuruh Cinderella naik ke kamarnya di
loteng. Ibu beserta kedua kakak tirinya
menyambut sang pangeran dan pengawalnya.
“sungguh
suatu kehormatan atas kehadiran yang mulia disini. Ada perihal apa gerangan
sehingga yang mulia bersedia singgah di gubuk kami yang kecil ini?” sapa ibu tiri
Cinderella dengan penuh hormat.
“perkenankan
aku mencobakan sepatu kaca ini kepada putri-putrimu nyonya.” Pinta pangeran.
“oh
dengan penuh hormat pangeran, tentu saja, semoga anda mendapatkan apa yang anda
inginkan”
Kedua
kakak tiri Cinderella mencoba sepatu kaca yang dibawa oleh sang pangeran. Yang satu
kakinya terlalu besar sehingga tidak muat, dan yang satu kakinya terlalu kecil
sehingga kebesaran.
“kemana
putrimu yang seorang lagi nyonya?” kata pangeran heran, karena tidak menemukan
gadis yang disebut adiknya Deas.
Betapa
terkejutnya sang ibu tiri, ia tidak menyangka jika sang pangeran mengetahui keberadaan Cinderella.
“eh?
Apa maksud tuanku, Cinderella tidak mungkin cocok dengan sepatu kaca ini yang
mulia, sedangkan dia sendiri tidak hadir pada pesta itu. Sungguh tidak mungkin
dia orang yang tuanku cari” kata ibu tiri heran.
“aku
tidak peduli dia datang pada pesta itu atau tidak, seluruh gadis dinegeri ini
berhak mencoba sepatu kaca ini.” Titah pangeran.
“uhh
baiklah... Cinderella! Kemari turunlah” teriak ibu tiri memanggil Cinderella.
Betapa
terkejutnya Cinderella, ia tidak menyangka bahwa sang ibu tiri akan
memanggilnya. Harapannya kini muncul kembali, ia bisa bertemu kembali dengan
sang pangeran! . tanpa menunda waktu Cinderella segera turun menuju tempat
ibunya, ia sungguh berbunga-bunga.
“ada
apa gerangan ibu memanggil saya?” tanya cinderella, melihat sang pangeran ia
langsung memberi salam hormat.
“
sungguh kami tersanjung atas kedatangan pangeran.” Cinderella tersenyum.
“nona
maukah kau mencoba sepatu kaca ini?” tanya sang pangeran, ia terpesona pada
gadis didepannya, tampak cantik dan anggun biarpun menggunakan pakaian pelayan,
ah ia kenal gadis itu, gadis yang berdansa dengannya.
“sungguh
kehormatan yang mulia mempersilakan hamba mengenakan sepatu kaca yang indah
ini.”
Cinderella
pun mencobanya dan tiba-tiba cahaya perak menyelimuti tubuhnya. Wussshhh...
kini Cinderella memakai sebuah gaun yang sangat indah.
“kaulah
gadis yang selama ini ku cari Cinderella, maukah kau menikah denganku?” kata
pangeran penuh kekaguman dan keterkejutan.
Dengan
mata berkaca-kaca dan kebahagiaan yang meletup-letup Cinderella mengangguk
terharu. Mereka pun ke istana, dan menikah. Cinderella yang baik, ia mengajak
ibu dan saudara tirinya tinggal di istana bersama dengannya biarpun ia telah di
aniaya. Ibu dan kedua kakak tirinya amat terharu, mereka berjanji akan menjadi
orang yang baik.
Dan
satu yang membuat Cinderella terkejut,
ia melihat Deas pada pesta pernikahannya, ia tidak menyangka ternyata Deas
adalah adik sang Pangeran pujaannya, kini pertanyaannya telah terjawab kenapa
Deas bisa memiliki gaun yang indah itu. Tidak, tidak hanya Cinderella yang
terkejut tapi seluruh rakyat negeri itu, orang yang selama ini mereka temui
yang mereka kira orang baik yang aneh tapi ternyata adalah seorang pangeran
yang gagah memesona.
Deas,
setelah perayaan pernikahan kakaknya ia memutuskan tinggal di kastil dekat
pantai di bagian utara yang masih menjadi wilayah kerajaan mereka. Dia memutuskan
sepenuhnya untuk mendalami hobinya membuat penemuan. Dan cita-citanya terwujud dia
menjadi seorang ilmuwan terkenal hingga akhir hayatnya. Menggenggam prestasi
dan cinta nya erat-erat. Dia masih mencintai gadis yang sama. Cinta yang tak
pernah tersampaikan. End.
*maap kalo gambar admin jelek :3
Hiks,hiks
akhirnya selesai juga cerita pangeran tanpa seorang putri *horeee
plok,plok,plok.. sedikit memainkan imajinasi boleh yak.. writer bikin ini
cerita sambil nangis bombay looh.. eh, bukan, bukan karena ceritanya tapi karena
mikir soal UAS !! haha ga nyambung T.T but it’s ok. Semoga para reader
terhibur, lebih-lebih kalo terharu hahaha makin gaje aja nih... thanks for
coming. ^0^
Jumat, 02 Januari 2015
hey! Aku dan Mereka
cerita yang dulu kubuat ketika SMA, itupun karena tugas Bahasa Indonesia. hahaha,
Tegang,
gelap... sayup-sayup terdengar suara yang ringan berceloteh, bercanda dan
tertawa seperti tanpa beban. Kulihat gadis kecil itu berlari-lari di sekitar
sepasang orang dewasa yang ikut tertawa melihat polah gadis kecil itu. Aku
kenal gadis itu, rambut panjang terikat, senyum berhiaskan lesung pipit tampak
serasi dengan wajah orientalnya. Dia adalah diriku, gadis kecil yang tak pernah
tahu, gadis kecil yang tak pernah bisa mengingat wajah sepasang orang dewasa
itu. Sebarapapun kerasnya mencoba melihat wajah-wajah itu maka semakin buram
bayang-bayang mereka. Keringat dingin mengalir, badanku bergetar, seketika itu
pula aku membuka mata, nafasku berderu kencang seperti telah berlari ratusan
kilometer. Mimpi itu datang lagi,datang di setiap malam-malam berhujan, datang
disetiap gelap dan sepi yang mencekam , aku hanya bisa termangu diatas
ranjangku, mendengar irama jutaan bulir air yang membasuh kota ini.
Jam
masih menunjukkan pukul 00.45 WIB, aku beranjak dari ranjangku dan bergegas
kedapur untuk menuntaskan dahaga akibat mimpi barusan. Ketika akan kembali aku
tersadar bahwa lampu ruang shalat menyala dan disana tampak seorang wanita
hampir paruh baya sedang duduk diantara dua sujud begitu tenang diantara suara
hujan. Aku terdiam membisu ketika ia menyadari kehadiranku, “ rinai? Ada apa?
Kamu tidak bisa tidur sayang?” suara itu menggema di udara. Ya, dialah ibu
raisa, pemilik panti Asuhan Cahaya Kecil yang aku tempati. “ada apa rinai?
Kemari, ceritakan kepada ibu apa yang membuatmu terbangun” bu raisa mengulang
kalimatnya dimodifikasi dengan pertanyaan yang berbeda. Ragu-ragu aku mendekat,
ketika aku ingin menceritakan mimpi itu lidahku kelu, dan seperti ada batu
besar yang tersangkut pada kerongkonganku. “tidak apa-apa bu, rinai hanya
terbangun karena haus”. Kata-kata itu melesat cepat disela kerongkonganku ada
rasa resah dan gelisah dalam hatiku. “sudah minum?” tanya bu raisa ketika
mendengar jawabanku , aku hanya mengangguk pelan. Bu raisa tertawa, tawa yang
renyah “ya sudah, sana kembali kekamarmu , besok kau harus bangun pagi dan
bersiap sekolah bukan?” aku langsung menjawab dengan cepat “ baik bu. . .” dan
kemudian kembali kekamarku, terlelap.
Semburat sinar
matahari bersinar terang memancarkan kegagahannya. Aku bersama saudara satu
atapku anak panti yaitu aldi, dika, dan dinara berlari-lari menuju bukit
dibelakang panti, kami bersenda gurau dengan santai. “dika, katanya kamu akan
diadopsi ya?” aldi bertanya memecah keheningan. Dinara yang sedari tadi asik di
dalam dunianya membaca buku seketika menoleh ke sumber suara “yang benar kak?”
aldi hanya mengangkat bahu, sedangkan dika yang dibicarakan hanya diam, tampak
gurat kesedihan diwajahnya. Hembusan angin memainkan anak rambut, sejenak
keheningan menjalar mengetuk-ngetuk
jiwa-jiwa kecil disini “hey, ayo kembali ke panti!” kataku sebelum
keheningan ini benar-benar menyelimuti kami, dika yang sedari tadi diam menoleh
dengan ragu dan dengan wajah yang terlihat cemas. “mmm... aku tidak ikut kak,
kalian pulang duluan saja” dika akhirnya membuka mulutnya, kami yang mendengar
penuturannya tampak heran, dinara yang sedari tadi penasaran dan telah mengerutkan keningnya mulai
bertanya “kenapa kak dika? Kenapa tidak ikut? Nanti bu raisa khawatir lho, apa
kakak tega melihat bu raisa sedi dan kerepotan?” begitulah dinara gadis kecil
yang cerdas membombardir dika dengan pertanyaan, dika yang mendengarnya
tersenyum kecut “aku tidak ingin membuat bu raisa sedih nara, aku. . . aku
hanya tidak ingin bertemu dengan orangtua baruku . . . aku hanya ingin terus
dipanti!” dengan bergetar dika menjelaskan, matanya panas. “dika, kamu tidak
boleh begitu, semua anak panti berharap
memiliki orangtua , seharusnya kamu bersyukur karena mendapat kesempatan itu.”
Aku membujuknya, dika yang jengkel dan labil mulai membantah,”tapi tidak
denganku kak! Aku ingin terus dipanti bersama yang lain! Merekalah keluargaku!
Bukan orang asing yang datang dan pergi membawa satu persatu anak panti!” aldi
dan dinara terdiam, udara terasa menyesakkan. Aku tahu perasaan dika yang dari
lahir sudah dititipkan dipanti, baginya panti asuhan cahaya kecil adalah
keluarga dan rumahnya. Aku menghela nafas “dika, kakak tahu perasaan sedihmu
karena akan berpisah, tapi hal ini pasti akan terjadi , ini demi masa depanmu
juga, jika kamu masih bersikeras aku dan yang lain tidak akan menghalangimu,
tapi sebaiknya kau bicarakan hal ini kepada bu raisa!” tandasku pada dika yang
masih tergugu. Dika menatapku dengan jengkel dan penuh amarah. Tanpa sepatah
katapun dika berlari meninggalkan kami yang hanya bisa melongo melihat
tingkahnya . setelah kejadian itu dika selalu terdiam, ia tidak pernah
sedikitpun menatapku dan mempedulikanku. Aku tahu dia benar-benar marah padaku
dan aku harus minta maaf padanya sebelum terlambat.
Malam
datang kamipun terlelap. Tak terasa aku sudah berada ditempat itu lagi dan
lagi-lagi aku melihat peristiwa itu. Gadis kecil dengan sepasang orang dewasa
yang tampak bahagia. Inginku mendekat, menatap mereka, tapi seperti terbelenggu
dalam kegelapan, tubuhku kaku, aku
berusaha mencoba mendekat kembali, sia-sia! Ini tak berguna, badanku bergetar
dan tanpa sadar aku terbangun dengan mata basah, badanku berkeringat. Ribuan
bulir air yang jatuh berirama memecah keheningan malam. Aku keluar kamar, kali
ini lampu kamar shalat tidak menyala berarti tidak ada bu raisa disana. Ketika melintasi kamar dika
sayup-sayup terdengar isak tangis seseorang , aku penasaran, kucari sumber
suara itu dan kudapati dika sedang menangis terisak diranjangnya. “dika?”
ucapku sembari memegang kepalanya . dika tetap terisak, “kamu masih marah
dengan kakak ya?” aku kembali berkata.
Tak ada jawaban. . . “dika, maafkan aku, aku tak bermaksud buruk, aku
hanya ingin kau bahagia. .” dika terus saja menangis, aku menghela nafas,
“dika? apakah kau tahu mengapa malam ini kakak terbangun?” aku kemudian
menceritakan mimpiku dengan mendetail, semua perasaan yang aku rasakan. Badanku
kembali bergetar, suaraku tercekat tapi aku dapat menceritakan mimpi mimpi itu,
aku tahu dika mendengarkanku karena dia telah berhenti menangis dan malam itu aku
memutuskan untuk menceritakan semua masalalu ku yang aku ketahui dari ibu
panti, semua yang menyebabkan aku sampai dipanti. “aku.. tidak sejak bayi
berada dipanti,aku datang kemari ketika berusia 6 tahun dan kau tahu siapa yang
mengantarkanku? Suster dari sebuah rumah sakit. Kata bu raisa, aku seorang anak
yang selamat dari insiden kapal karam karena terhantam badai, aku ditemukan
telah membiru karena kedinginan. Aku langsung dibawa kerumah sakit oleh tim SAR
yang menangani insiden itu, katanya aku lupa ingatan karena trauma berat, yah ku akui aku memang tidak ingat apapun
tentang semua masa keciku ketika bersama orang tua ku. Nama rinai kusuma itu
diberikan ole almarhum pak alif, kau kenalkan suami bu raisa?” aku berusaha
tertawa memecah suasana yang menyesakkan ini. Dika yang sangat menyukai pak
alif mengangguk dengan cepat. Aku tersenyum. “kau tahu apa pesan pak alif dulu
kepada kita?” tanyaku kepada dika. Ia ragu-ragu mengangguk. Aku kembali tertawa
dan berkata “dimanapun kita berada, kita akan tetap menjadi saudara, tak akan
ada yang hilang dari hati, tidak akan ada! Kita akan selalu dan selalu menjadi
keluarga.” Suaraku bergetar diantara nafasku yang tersengal perlahan
bulir-bulir air mulai mengalir dari sudut mataku. Hujan semakin deras menyapu
kota , membuat orang-orang tambah terlelap.
"kak?
Sudah jangan menangis , dika sekarang sadar kak, dika tak akan egois, lagipula
dika tahu orang tua baru dika sangat baik, dika sebenarnya juga menyukai
mereka, dika hanya takut jika tak bisa bertemu kalian lagi. Dika berjanji akan
menjadi anak baik dan melakukan hal terbaik yang dika bisa. Jadi, jika suatu
saat nanti kita bertemu, tak akan ada yang hilang dari hati, kita tetap
saudara...” dika mengatakannya dengan senyum tanpa sedikitpun beban. Dua hari
setelah kejadian itu kami melepas dika pergi bersama kedua orangtua barunya ia
pergi dengan wajah berseri-seri.
Sedangkan
aku? Aku tetap disini, dengan mimpi-mimpi yang terbelenggu. Dan perlahan aku
mulai menikmati mimpi-mimpi itu menyimpannya dalam memoriku dan ketika aku
bermimpi tentang kejadian-kejadian itu aku berharap semoga aku tak pernah
terbangun agar aku bisa selalu melihat wajah-wajah itu dan tersenyum di bawah
langit biru.end.
Langganan:
Postingan (Atom)


