Disaat bintang tenggelam, bersembunyi dalam kabut mega. Disaat gelap gulita tampak,sesungguhnya mata ini masih melihat berjuta bintang yang temaram menyebar membentuk bermilyar-milyar galaksi yang tak terhitung jumlahnya. Memancarkan kerlap-kerlip kilau cahayanya. Menampilkan betapa megahnya, betapa hebat pesonanya hingga muncul berbagai pertanyaan, apa sebenarnya cahaya itu? Unsur-unsur apa yang bereaksi, sehingga ciptakan gemerlap seperti itu? Apa, apa, dan apa? Pertanyaan-pertanyaan yang tak akan ada habisnya, tak ada hentinya
Setiap detik, hembusan nafas, detak jantung bergerak. Tak ada hentinya, berputar seperti rotasi bumi.
"ahh bintangnya tak tampak" kata gadis itu.
Aku tersenyum dan menggeleng, "bintang itu selalu tampak Jae"
"bagaimana kakak tau kalau bintang itu tampak? Jelas-jelas hanya awan gelap yang tampak" gadis itu mendengus kesal merasa ditipu. Pandangannya turun ke tanah, lelah menatap langit yang tak kunjung terang, lelah mencari-cari setitik bintang.
"jae, kau tau kenapa kakak selalu menengadah? Menatap ke atas?"
"bukankah itu sifat kakak, selalu tertawa menatap kedepan memandang keatas, tidak seperti jae yang selalu menunduk"
Jae semakin menunduk, matanya tajam menghujam tanah seperti melucuti setiap lapisan kulit bumi, ahh aku tak seperti yang kau bayangkan Jae.
"apa kau menyukai material bumi Jae?"
Gadis itu bingung dan menatapku, pertanyaan apa pula itu.
"tidak kak, bahkan aku tidak tau unsur-unsur yang ada didalam sana, bagaimana bisa aku menyukainya?"
"Kalau begitu mengapa kau selalu melihat kebawah? Bukankah itu tmpat lapisan kulit bumi? Lalu apa yang kau lihat disana? Hanya ada tanah disana"
Jae menggeleng, mencerna pertanyaanku, Jae yang polos kini terdiam.
"Jae sama sekali tak memikirkan unsur bumi atau apapun itu kak, jae hanya..."
Gadis kecil itu kembali terdiam.
"jae, tahukah? Kakak selalu melihat ke atas karena bintang. Kakak selalu tersenyum dan tettawa karena bintang, lihatlah bintang itu indah bertebaran diatas"
"bagaimana bisa kak? Daritadi yang jae lihat hanya awan gelap, tidak ada keindahan disana"
Aku tertawa, betapa polosnya pertanyaan itu.
"jangan kau lihat secara kasat mata jae, lihatlah menggunakan hatimu, bagi kakak bintang selalu bertebaran dilangit, bintang-bintang orang yang kita sayangi. Mereka selalu mengawasi kita, memperhatikan kita"
"benarkah kak? Kakak tidak bohong? Mereka melihat jae? Aduh apa yang jae lakukan, jae tidak dandan yang cantik untuk bunda, jae tidak melihat mereka, betapa jahatnya jae selama ini,"
"hahaha Jae tidak jahat, jae hanya belum tahu, kakak yakin bunda memaafkan jae, asalkan jae angkat kepala, tataplah kedepan, tersenyumlah, bunda paling suka melihat jae tersenyum."
"bagaimana bisa bunda suka dengan senyum jae kak? Bahkan bunda tak pernah melihat senyum jae"
"jae, bunda sudah membayangkan senyum jae saat jae masih dalam kandungan, bunda selalu bertanya-tanya seperti apa senyum gadisku nanti, pasti manis sekali, bunda bilang sambil tersenyum senang, kalau jae tahu seperti itulah kakak melihat bintang, tak tampak memang jika kasat mata tapi lihatlah dari hati jae"
"bunda pasti cantik dan ceria ya kak? Jae rindu Bunda, apa bunda rindu jae?"
"tentu jae, ibu mana yang tak rindu anaknya, bunda pasti sedih kalau lihat jae yang sedih, jae tersenyumlah untuk bunda, cerialah untuk bunda"
Jae tersenyum padaku, lalu dia menggeleng, rambut ikalnya bergerak pasrah menerima gelengan keras jae lihatlah mata bulatnya begitu menggaemaskan, adik kecil yang manis. bunda, jae seperti yang engkau bayangkan, cantik dan menggemaskan.
"tidak kak, jae tersenyum tidak hanya untuk bunda, jae tersenyum untuk kakak juga."
ahh... Adik kecilku yang manis. Betapa bermaknanya kata-kata itu untuk kakakmu ini. Aku hanya bisa tersenyum mendengar kata-katanya. Gadis kecil yang polos dan lugu. Sang malaikat kecil.
Manusia itu penuh cerita. sadar atau tidak sadar hidup yang menurut kita tak ada maknanya sama sekali bahkan akan sangat bermakna dari sudut pandang yang berbeda. peluk erat segala kejadian yang kau miliki. maka kebahagiaan akan kau dapatkan.
Senin, 16 Maret 2015
Little princes
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar