cerita yang dulu kubuat ketika SMA, itupun karena tugas Bahasa Indonesia. hahaha,
Tegang,
gelap... sayup-sayup terdengar suara yang ringan berceloteh, bercanda dan
tertawa seperti tanpa beban. Kulihat gadis kecil itu berlari-lari di sekitar
sepasang orang dewasa yang ikut tertawa melihat polah gadis kecil itu. Aku
kenal gadis itu, rambut panjang terikat, senyum berhiaskan lesung pipit tampak
serasi dengan wajah orientalnya. Dia adalah diriku, gadis kecil yang tak pernah
tahu, gadis kecil yang tak pernah bisa mengingat wajah sepasang orang dewasa
itu. Sebarapapun kerasnya mencoba melihat wajah-wajah itu maka semakin buram
bayang-bayang mereka. Keringat dingin mengalir, badanku bergetar, seketika itu
pula aku membuka mata, nafasku berderu kencang seperti telah berlari ratusan
kilometer. Mimpi itu datang lagi,datang di setiap malam-malam berhujan, datang
disetiap gelap dan sepi yang mencekam , aku hanya bisa termangu diatas
ranjangku, mendengar irama jutaan bulir air yang membasuh kota ini.
Jam
masih menunjukkan pukul 00.45 WIB, aku beranjak dari ranjangku dan bergegas
kedapur untuk menuntaskan dahaga akibat mimpi barusan. Ketika akan kembali aku
tersadar bahwa lampu ruang shalat menyala dan disana tampak seorang wanita
hampir paruh baya sedang duduk diantara dua sujud begitu tenang diantara suara
hujan. Aku terdiam membisu ketika ia menyadari kehadiranku, “ rinai? Ada apa?
Kamu tidak bisa tidur sayang?” suara itu menggema di udara. Ya, dialah ibu
raisa, pemilik panti Asuhan Cahaya Kecil yang aku tempati. “ada apa rinai?
Kemari, ceritakan kepada ibu apa yang membuatmu terbangun” bu raisa mengulang
kalimatnya dimodifikasi dengan pertanyaan yang berbeda. Ragu-ragu aku mendekat,
ketika aku ingin menceritakan mimpi itu lidahku kelu, dan seperti ada batu
besar yang tersangkut pada kerongkonganku. “tidak apa-apa bu, rinai hanya
terbangun karena haus”. Kata-kata itu melesat cepat disela kerongkonganku ada
rasa resah dan gelisah dalam hatiku. “sudah minum?” tanya bu raisa ketika
mendengar jawabanku , aku hanya mengangguk pelan. Bu raisa tertawa, tawa yang
renyah “ya sudah, sana kembali kekamarmu , besok kau harus bangun pagi dan
bersiap sekolah bukan?” aku langsung menjawab dengan cepat “ baik bu. . .” dan
kemudian kembali kekamarku, terlelap.
Semburat sinar
matahari bersinar terang memancarkan kegagahannya. Aku bersama saudara satu
atapku anak panti yaitu aldi, dika, dan dinara berlari-lari menuju bukit
dibelakang panti, kami bersenda gurau dengan santai. “dika, katanya kamu akan
diadopsi ya?” aldi bertanya memecah keheningan. Dinara yang sedari tadi asik di
dalam dunianya membaca buku seketika menoleh ke sumber suara “yang benar kak?”
aldi hanya mengangkat bahu, sedangkan dika yang dibicarakan hanya diam, tampak
gurat kesedihan diwajahnya. Hembusan angin memainkan anak rambut, sejenak
keheningan menjalar mengetuk-ngetuk
jiwa-jiwa kecil disini “hey, ayo kembali ke panti!” kataku sebelum
keheningan ini benar-benar menyelimuti kami, dika yang sedari tadi diam menoleh
dengan ragu dan dengan wajah yang terlihat cemas. “mmm... aku tidak ikut kak,
kalian pulang duluan saja” dika akhirnya membuka mulutnya, kami yang mendengar
penuturannya tampak heran, dinara yang sedari tadi penasaran dan telah mengerutkan keningnya mulai
bertanya “kenapa kak dika? Kenapa tidak ikut? Nanti bu raisa khawatir lho, apa
kakak tega melihat bu raisa sedi dan kerepotan?” begitulah dinara gadis kecil
yang cerdas membombardir dika dengan pertanyaan, dika yang mendengarnya
tersenyum kecut “aku tidak ingin membuat bu raisa sedih nara, aku. . . aku
hanya tidak ingin bertemu dengan orangtua baruku . . . aku hanya ingin terus
dipanti!” dengan bergetar dika menjelaskan, matanya panas. “dika, kamu tidak
boleh begitu, semua anak panti berharap
memiliki orangtua , seharusnya kamu bersyukur karena mendapat kesempatan itu.”
Aku membujuknya, dika yang jengkel dan labil mulai membantah,”tapi tidak
denganku kak! Aku ingin terus dipanti bersama yang lain! Merekalah keluargaku!
Bukan orang asing yang datang dan pergi membawa satu persatu anak panti!” aldi
dan dinara terdiam, udara terasa menyesakkan. Aku tahu perasaan dika yang dari
lahir sudah dititipkan dipanti, baginya panti asuhan cahaya kecil adalah
keluarga dan rumahnya. Aku menghela nafas “dika, kakak tahu perasaan sedihmu
karena akan berpisah, tapi hal ini pasti akan terjadi , ini demi masa depanmu
juga, jika kamu masih bersikeras aku dan yang lain tidak akan menghalangimu,
tapi sebaiknya kau bicarakan hal ini kepada bu raisa!” tandasku pada dika yang
masih tergugu. Dika menatapku dengan jengkel dan penuh amarah. Tanpa sepatah
katapun dika berlari meninggalkan kami yang hanya bisa melongo melihat
tingkahnya . setelah kejadian itu dika selalu terdiam, ia tidak pernah
sedikitpun menatapku dan mempedulikanku. Aku tahu dia benar-benar marah padaku
dan aku harus minta maaf padanya sebelum terlambat.
Malam
datang kamipun terlelap. Tak terasa aku sudah berada ditempat itu lagi dan
lagi-lagi aku melihat peristiwa itu. Gadis kecil dengan sepasang orang dewasa
yang tampak bahagia. Inginku mendekat, menatap mereka, tapi seperti terbelenggu
dalam kegelapan, tubuhku kaku, aku
berusaha mencoba mendekat kembali, sia-sia! Ini tak berguna, badanku bergetar
dan tanpa sadar aku terbangun dengan mata basah, badanku berkeringat. Ribuan
bulir air yang jatuh berirama memecah keheningan malam. Aku keluar kamar, kali
ini lampu kamar shalat tidak menyala berarti tidak ada bu raisa disana. Ketika melintasi kamar dika
sayup-sayup terdengar isak tangis seseorang , aku penasaran, kucari sumber
suara itu dan kudapati dika sedang menangis terisak diranjangnya. “dika?”
ucapku sembari memegang kepalanya . dika tetap terisak, “kamu masih marah
dengan kakak ya?” aku kembali berkata.
Tak ada jawaban. . . “dika, maafkan aku, aku tak bermaksud buruk, aku
hanya ingin kau bahagia. .” dika terus saja menangis, aku menghela nafas,
“dika? apakah kau tahu mengapa malam ini kakak terbangun?” aku kemudian
menceritakan mimpiku dengan mendetail, semua perasaan yang aku rasakan. Badanku
kembali bergetar, suaraku tercekat tapi aku dapat menceritakan mimpi mimpi itu,
aku tahu dika mendengarkanku karena dia telah berhenti menangis dan malam itu aku
memutuskan untuk menceritakan semua masalalu ku yang aku ketahui dari ibu
panti, semua yang menyebabkan aku sampai dipanti. “aku.. tidak sejak bayi
berada dipanti,aku datang kemari ketika berusia 6 tahun dan kau tahu siapa yang
mengantarkanku? Suster dari sebuah rumah sakit. Kata bu raisa, aku seorang anak
yang selamat dari insiden kapal karam karena terhantam badai, aku ditemukan
telah membiru karena kedinginan. Aku langsung dibawa kerumah sakit oleh tim SAR
yang menangani insiden itu, katanya aku lupa ingatan karena trauma berat, yah ku akui aku memang tidak ingat apapun
tentang semua masa keciku ketika bersama orang tua ku. Nama rinai kusuma itu
diberikan ole almarhum pak alif, kau kenalkan suami bu raisa?” aku berusaha
tertawa memecah suasana yang menyesakkan ini. Dika yang sangat menyukai pak
alif mengangguk dengan cepat. Aku tersenyum. “kau tahu apa pesan pak alif dulu
kepada kita?” tanyaku kepada dika. Ia ragu-ragu mengangguk. Aku kembali tertawa
dan berkata “dimanapun kita berada, kita akan tetap menjadi saudara, tak akan
ada yang hilang dari hati, tidak akan ada! Kita akan selalu dan selalu menjadi
keluarga.” Suaraku bergetar diantara nafasku yang tersengal perlahan
bulir-bulir air mulai mengalir dari sudut mataku. Hujan semakin deras menyapu
kota , membuat orang-orang tambah terlelap.
"kak?
Sudah jangan menangis , dika sekarang sadar kak, dika tak akan egois, lagipula
dika tahu orang tua baru dika sangat baik, dika sebenarnya juga menyukai
mereka, dika hanya takut jika tak bisa bertemu kalian lagi. Dika berjanji akan
menjadi anak baik dan melakukan hal terbaik yang dika bisa. Jadi, jika suatu
saat nanti kita bertemu, tak akan ada yang hilang dari hati, kita tetap
saudara...” dika mengatakannya dengan senyum tanpa sedikitpun beban. Dua hari
setelah kejadian itu kami melepas dika pergi bersama kedua orangtua barunya ia
pergi dengan wajah berseri-seri.
Sedangkan
aku? Aku tetap disini, dengan mimpi-mimpi yang terbelenggu. Dan perlahan aku
mulai menikmati mimpi-mimpi itu menyimpannya dalam memoriku dan ketika aku
bermimpi tentang kejadian-kejadian itu aku berharap semoga aku tak pernah
terbangun agar aku bisa selalu melihat wajah-wajah itu dan tersenyum di bawah
langit biru.end.

Ceritanya bagus, hanya saja pengetikanya kurang teliti dan harus diedit lagi agar penulisanya sesuai kaidah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar.
BalasHapusSehingga ketika membaca tidak menemukan keganjalan yang berarti.
#hehehesokbangetguaya
hehehe tengkyu' buat masukannya acin, nanti admin benahi lagi... masih perlu banyak x 100 buat belajar lagi :D ^_^
BalasHapusbagus jeng. aku kan pernah ya baca cerpenmu yang ini...
BalasHapusdiperbaiki aja tata tulisannya dan EYD nya ^^