Jumat, 02 Januari 2015

hey! Aku dan Mereka


cerita yang dulu kubuat ketika SMA, itupun karena tugas Bahasa Indonesia. hahaha, 
Tegang, gelap... sayup-sayup terdengar suara yang ringan berceloteh, bercanda dan tertawa seperti tanpa beban. Kulihat gadis kecil itu berlari-lari di sekitar sepasang orang dewasa yang ikut tertawa melihat polah gadis kecil itu. Aku kenal gadis itu, rambut panjang terikat, senyum berhiaskan lesung pipit tampak serasi dengan wajah orientalnya. Dia adalah diriku, gadis kecil yang tak pernah tahu, gadis kecil yang tak pernah bisa mengingat wajah sepasang orang dewasa itu. Sebarapapun kerasnya mencoba melihat wajah-wajah itu maka semakin buram bayang-bayang mereka. Keringat dingin mengalir, badanku bergetar, seketika itu pula aku membuka mata, nafasku berderu kencang seperti telah berlari ratusan kilometer. Mimpi itu datang lagi,datang di setiap malam-malam berhujan, datang disetiap gelap dan sepi yang mencekam , aku hanya bisa termangu diatas ranjangku, mendengar irama jutaan bulir air yang membasuh kota ini.
Jam masih menunjukkan pukul 00.45 WIB, aku beranjak dari ranjangku dan bergegas kedapur untuk menuntaskan dahaga akibat mimpi barusan. Ketika akan kembali aku tersadar bahwa lampu ruang shalat menyala dan disana tampak seorang wanita hampir paruh baya sedang duduk diantara dua sujud begitu tenang diantara suara hujan. Aku terdiam membisu ketika ia menyadari kehadiranku, “ rinai? Ada apa? Kamu tidak bisa tidur sayang?” suara itu menggema di udara. Ya, dialah ibu raisa, pemilik panti Asuhan Cahaya Kecil yang aku tempati. “ada apa rinai? Kemari, ceritakan kepada ibu apa yang membuatmu terbangun” bu raisa mengulang kalimatnya dimodifikasi dengan pertanyaan yang berbeda. Ragu-ragu aku mendekat, ketika aku ingin menceritakan mimpi itu lidahku kelu, dan seperti ada batu besar yang tersangkut pada kerongkonganku. “tidak apa-apa bu, rinai hanya terbangun karena haus”. Kata-kata itu melesat cepat disela kerongkonganku ada rasa resah dan gelisah dalam hatiku. “sudah minum?” tanya bu raisa ketika mendengar jawabanku , aku hanya mengangguk pelan. Bu raisa tertawa, tawa yang renyah “ya sudah, sana kembali kekamarmu , besok kau harus bangun pagi dan bersiap sekolah bukan?” aku langsung menjawab dengan cepat “ baik bu. . .” dan kemudian kembali kekamarku, terlelap.
Semburat sinar matahari bersinar terang memancarkan kegagahannya. Aku bersama saudara satu atapku anak panti yaitu aldi, dika, dan dinara berlari-lari menuju bukit dibelakang panti, kami bersenda gurau dengan santai. “dika, katanya kamu akan diadopsi ya?” aldi bertanya memecah keheningan. Dinara yang sedari tadi asik di dalam dunianya membaca buku seketika menoleh ke sumber suara “yang benar kak?” aldi hanya mengangkat bahu, sedangkan dika yang dibicarakan hanya diam, tampak gurat kesedihan diwajahnya. Hembusan angin memainkan anak rambut, sejenak keheningan menjalar mengetuk-ngetuk  jiwa-jiwa kecil disini “hey, ayo kembali ke panti!” kataku sebelum keheningan ini benar-benar menyelimuti kami, dika yang sedari tadi diam menoleh dengan ragu dan dengan wajah yang terlihat cemas. “mmm... aku tidak ikut kak, kalian pulang duluan saja” dika akhirnya membuka mulutnya, kami yang mendengar penuturannya tampak heran, dinara yang sedari tadi penasaran  dan telah mengerutkan keningnya mulai bertanya “kenapa kak dika? Kenapa tidak ikut? Nanti bu raisa khawatir lho, apa kakak tega melihat bu raisa sedi dan kerepotan?” begitulah dinara gadis kecil yang cerdas membombardir dika dengan pertanyaan, dika yang mendengarnya tersenyum kecut “aku tidak ingin membuat bu raisa sedih nara, aku. . . aku hanya tidak ingin bertemu dengan orangtua baruku . . . aku hanya ingin terus dipanti!” dengan bergetar dika menjelaskan, matanya panas. “dika, kamu tidak boleh begitu,  semua anak panti berharap memiliki orangtua , seharusnya kamu bersyukur karena mendapat kesempatan itu.” Aku membujuknya, dika yang jengkel dan labil mulai membantah,”tapi tidak denganku kak! Aku ingin terus dipanti bersama yang lain! Merekalah keluargaku! Bukan orang asing yang datang dan pergi membawa satu persatu anak panti!” aldi dan dinara terdiam, udara terasa menyesakkan. Aku tahu perasaan dika yang dari lahir sudah dititipkan dipanti, baginya panti asuhan cahaya kecil adalah keluarga dan rumahnya. Aku menghela nafas “dika, kakak tahu perasaan sedihmu karena akan berpisah, tapi hal ini pasti akan terjadi , ini demi masa depanmu juga, jika kamu masih bersikeras aku dan yang lain tidak akan menghalangimu, tapi sebaiknya kau bicarakan hal ini kepada bu raisa!” tandasku pada dika yang masih tergugu. Dika menatapku dengan jengkel dan penuh amarah. Tanpa sepatah katapun dika berlari meninggalkan kami yang hanya bisa melongo melihat tingkahnya . setelah kejadian itu dika selalu terdiam, ia tidak pernah sedikitpun menatapku dan mempedulikanku. Aku tahu dia benar-benar marah padaku dan aku harus minta maaf padanya sebelum terlambat.
Malam datang kamipun terlelap. Tak terasa aku sudah berada ditempat itu lagi dan lagi-lagi aku melihat peristiwa itu. Gadis kecil dengan sepasang orang dewasa yang tampak bahagia. Inginku mendekat, menatap mereka, tapi seperti terbelenggu dalam kegelapan, tubuhku kaku,  aku berusaha mencoba mendekat kembali, sia-sia! Ini tak berguna, badanku bergetar dan tanpa sadar aku terbangun dengan mata basah, badanku berkeringat. Ribuan bulir air yang jatuh berirama memecah keheningan malam. Aku keluar kamar, kali ini lampu kamar shalat tidak menyala berarti tidak ada bu raisa  disana. Ketika melintasi kamar dika sayup-sayup terdengar isak tangis seseorang , aku penasaran, kucari sumber suara itu dan kudapati dika sedang menangis terisak diranjangnya. “dika?” ucapku sembari memegang kepalanya . dika tetap terisak, “kamu masih marah dengan kakak ya?” aku kembali berkata.  Tak ada jawaban. . . “dika, maafkan aku, aku tak bermaksud buruk, aku hanya ingin kau bahagia. .” dika terus saja menangis, aku menghela nafas, “dika? apakah kau tahu mengapa malam ini kakak terbangun?” aku kemudian menceritakan mimpiku dengan mendetail, semua perasaan yang aku rasakan. Badanku kembali bergetar, suaraku tercekat tapi aku dapat menceritakan mimpi mimpi itu, aku tahu dika mendengarkanku karena dia telah berhenti menangis dan malam itu aku memutuskan untuk menceritakan semua masalalu ku yang aku ketahui dari ibu panti, semua yang menyebabkan aku sampai dipanti. “aku.. tidak sejak bayi berada dipanti,aku datang kemari ketika berusia 6 tahun dan kau tahu siapa yang mengantarkanku? Suster dari sebuah rumah sakit. Kata bu raisa, aku seorang anak yang selamat dari insiden kapal karam karena terhantam badai, aku ditemukan telah membiru karena kedinginan. Aku langsung dibawa kerumah sakit oleh tim SAR yang menangani insiden itu, katanya aku lupa ingatan karena trauma berat,  yah ku akui aku memang tidak ingat apapun tentang semua masa keciku ketika bersama orang tua ku. Nama rinai kusuma itu diberikan ole almarhum pak alif, kau kenalkan suami bu raisa?” aku berusaha tertawa memecah suasana yang menyesakkan ini. Dika yang sangat menyukai pak alif mengangguk dengan cepat. Aku tersenyum. “kau tahu apa pesan pak alif dulu kepada kita?” tanyaku kepada dika. Ia ragu-ragu mengangguk. Aku kembali tertawa dan berkata “dimanapun kita berada, kita akan tetap menjadi saudara, tak akan ada yang hilang dari hati, tidak akan ada! Kita akan selalu dan selalu menjadi keluarga.” Suaraku bergetar diantara nafasku yang tersengal perlahan bulir-bulir air mulai mengalir dari sudut mataku. Hujan semakin deras menyapu kota , membuat orang-orang tambah terlelap.
"kak? Sudah jangan menangis , dika sekarang sadar kak, dika tak akan egois, lagipula dika tahu orang tua baru dika sangat baik, dika sebenarnya juga menyukai mereka, dika hanya takut jika tak bisa bertemu kalian lagi. Dika berjanji akan menjadi anak baik dan melakukan hal terbaik yang dika bisa. Jadi, jika suatu saat nanti kita bertemu, tak akan ada yang hilang dari hati, kita tetap saudara...” dika mengatakannya dengan senyum tanpa sedikitpun beban. Dua hari setelah kejadian itu kami melepas dika pergi bersama kedua orangtua barunya ia pergi dengan wajah berseri-seri.
Sedangkan aku? Aku tetap disini, dengan mimpi-mimpi yang terbelenggu. Dan perlahan aku mulai menikmati mimpi-mimpi itu menyimpannya dalam memoriku dan ketika aku bermimpi tentang kejadian-kejadian itu aku berharap semoga aku tak pernah terbangun agar aku bisa selalu melihat wajah-wajah itu dan tersenyum di bawah langit biru.end.
 


3 komentar:

  1. Ceritanya bagus, hanya saja pengetikanya kurang teliti dan harus diedit lagi agar penulisanya sesuai kaidah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar.
    Sehingga ketika membaca tidak menemukan keganjalan yang berarti.
    #hehehesokbangetguaya

    BalasHapus
  2. hehehe tengkyu' buat masukannya acin, nanti admin benahi lagi... masih perlu banyak x 100 buat belajar lagi :D ^_^

    BalasHapus
  3. bagus jeng. aku kan pernah ya baca cerpenmu yang ini...
    diperbaiki aja tata tulisannya dan EYD nya ^^

    BalasHapus